Bookmark and Share


 
 



  Namaku, Arimbi (Bagian 1)

 
 


PROLOG
Setumpuk arsip tua teronggok di atas meja tulis yang terbuat dari kayu jati yang warna peliturnya mulai pudar dimakan waktu. Sorot mata Dayu menatap tajam secarik kertas buram dalam genggamannya. Sudah tak terhitung, berapa belas kali isi surat ditatapnya, tetapi setiap kali itu pula otaknya gagal mencerna makna isi pesan surat. Secarik surat yang ditulis tangan.

Baris demi baris, goresan tinta yang warnanya mulai pudar dimakan waktu coba dipatri di benak Dayu yang masih belum hilang kalutnya. Baru dua hari ia datang di Subang. Sebuah kota kecil persinggahan yang menghubungkan kota-kota di sebelah selatan Jawa Barat dengan kota di sebelah utaranya.

Dayu mencoba meregangkan tulang punggungnya di atas kursi kerja ayahnya, menghadap sebuah meja kerja tua yang dipenuhi kenangan masa silam. Sejak pagi ia tenggelam di ruang kerja pribadi yang dulu sangat diakrabinya. Tempat di mana ayahnya banyak menghabiskan waktu selepas masa pensiun di penghujung tahun 80-an. Di ruangan berukuran dua belas meter persegi ini, Dayu kecil bisa betah berjam-jam bercengkerama dengan ayah, atau tenggelam di tengah tumpukan buku.

Ruang kerja ayahnya menjadi tempat favorit Dayu, karena di sini tersimpan ratusan bahkan ribuan buku. Ayah pernah bercerita, buku-buku tadi dikumpulkannya sejak ia masih duduk di bangku  SD hingga lulus perguruan tinggi. Koleksinya bertambah saat ayah mulai bekerja di sebuah perkebunan milik negara. yang dikumpulkan.
”Dayu harus merawat buku-buku ini, seperti benda berharga lainnya,” tutur ayah sambil mengelus rambut gadis cilik satu-satunya yang tengah duduk di atas pangkuannya. Saat itu Dayu menganggukkan kepalanya dengan pasti. Ingatan ini kembali berkelebat setelah lebih seperempat abad kemudian.

Sedari pagi wanita yang usianya sudah merambat hampir ke angka 30 ini, nyaris tidak keluar dari ruang yang merekam masa-masa indah dulu. Beberapa buku yang mulai berdebu dan berbau apak, dibukanya satu per satu. Mulai dari buku ilmu botani, kamus tebal bahasa Belanda, hingga kumpulan buku kerja dibukanya hati-hati. Sudah tak terhitung lagi, berapa buku yang sudah dibacanya, sampai akhirnya Dayu memutuskan untuk pergi menemui beberapa orang saudara dan kerabatnya di ruang keluarga, yang mencoba menghibur ibunya yang belum sepenuhnya bisa merelakan kepergian suami tercinta.

”Yu, Ayah tos ngantunkeun (Ayah sudah meninggal),” suara Ibu yang lirih nyaris tak terdengar si ujung telepon seakan menyentak konsentrasi Dayu di suatu siang, tiga hari lalu. Pesan singkat via telepon itu diterima Dayu, saat ia tengah tenggelam menyelesaikan naskah disertasinya, di sebuah perpustakaan universitas di pinggiran London. Pesan ibunya yang diterima dari telepon seluler 3.5G yang kini jadi teman setianya saat ia terpisah ribuan kilometer dari Tanah Air, seharusnya tidak mengagetkan.

Ayah memang sudah lima tahun terakhir harus berobat secara rutin ke dokter jantung. Sebagai administratur perkebunan yang membawahi ribuan karyawan, dari mulai staf di afdeling, sopir traktor pengangkut lateks hingga tukang sadap karet, Dayu kenal betul karakter ayahnya. Bram Nataatmadja dikenal sebagai pekerja keras yang tidak pernah mau kompromi dengan waktu.

Setiap pekerjaan harus diselesaikan tepat waktu. Dikenal tegas pada bawahan, namun sangat menghormati perbedaan pendapat. Ayah yang dikenang Dayu adalah sosok pemimpin yang sangat dekat dengan bawahannya. Tak heran, banyak orang sangat kehilangan di saat harus mengakhiri masa tugasnya di sebuah afdeling. Maklum tiap tiga sampai empat tahun sekali keluarga Bram yang dikaruniai tiga putra – dan kemudian seorang putri cantik – kerap berpindah tempat. Pihak direksi biasanya akan menugasi Bram ke afdeling yang dianggap memiliki reputasi buruk. Tangan dinginnya mampu menyulap sebuah perkebunan yang tadinya minim produksi menjadi mesin uang bagi perusahaan.

Tak heran bila reputasinya diakui di kalangan direksi. Namanya kerap dijadikan referensi di berbagai rapat direksi. Tanpa kecuali pucuk pimpinan pun mulai melirik prestasi Bram. Sedikitnya sebulan dua kali ia berangkat ke kantor pusat di Bandung, bertemu dengan dewan direksi, untuk mendapat laporan terkini perkembangan di daerah. Tak jarang, Bram dipanggil ke ruang direktur utama hanya untuk sebuah pertemuan empat mata.

Prestasi Bram, sejujurnya memang membanggakan para kolega dan karyawannya. Tapi, tidak sedikit yang memandangnya dengan nyinyir. Di mata mereka, Bram tidak lebih karyawan yang mencoba mengambil hati direksi dengan segala kerja kerasnya. Tapi, Bram berusaha menulikan komentar miring tadi.

Pernah memang, dari penuturan ibu dulu, karier ayahnya sempat berada di ujung tanduk. Tiba-tiba jabatannya sebagai koordinator administratur digoyang beberapa koleganya, sampai akhirnya nyaris tidak memiliki posisi jelas selama hampir dua tahun. Menghadapi situasi sulit ini, keluarga Bram harus hidup lebih prihatin. Terlebih di saat itu perekonomian negara mulai morat-marit.

Pendulum politik luar negeri Presiden Soekarno yang cenderung bergerak ke negara-negara sosialis menjadi slah satu pemicunya. Negara-negara Barat yang sangat alergi dengan siapa pun yang cenderung kekiri-kirian, selalu memberikan tekanan ekonomi. Tanpa kecuali Indonesia. Sejak saat itu, ekonomi negara morat-marit, rakyat harus berjuang hanya untuk mendapat setengah karung beras, atau sejeriken minyak tanah.

Begitu pun keluarga Bram. Dengan penurunan pangkat, belum lagi gaji bulanan yang dipangkas lebih dari setengahnya, membuat mereka harus mengetatkan ikat pinggang. Untunglah, keluarga muda ini mampu mendada cobaan demi cobaan. Meski sempat dijauhi kolega dan sahabat dekat, tapi, akhirnya reputasi Bram kembali pulih. Kariernya mulai merangkak naik, meski tidak sepesat sebelumnya. Sampai kemudian posisinya sebagai administratur kembali disandangnya.

Bersambung

Penulis: Hadi PM


Cerita Terkait :

» Namaku, Arimbi (Bagian 2)

» Namaku, Arimbi (Bagian 3)

» Namaku, Arimbi (Bagian 4)

» Namaku, Arimbi (Bagian 5)

» Namaku, Arimbi (Bagian 6)

» Namaku, Arimbi (Bagian 7)

» Namaku, Arimbi (Bagian 8)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :