
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Namaku, Arimbi (Bagian 2)

|
|
| |
Ketika perekonomian keluarga kembali pulih, ayahnya yang baru dikaruniai tiga putra, merindukan kehadiran seorang anak perempuan. Tidak mudah memang mewujudkan harapan ini. Bahkan sempat sekali keguguran, pasangan ini mencoba berbagai ikhtiar untuk bisa memperoleh momongan baru.
Baru di pertengahan tahun tujuh puluhan, keluarga ini dikaruniai seorang bayi mungil, perempuan! Kehadiran Idayu Nataatmadja melengkapi kebahagiaan keluarga yang kini berjumlah enam orang. Setidaknya, cerita itulah yang diperoleh Dayu, panggilan sayang kedua orang tuanya kepada Idayu dari mulut sang bunda.
Dayu sendiri merasakan kecintaan kedua orang tuanya, serta ketiga kakak lelakinya menjadi sumber inspirasi untuk bisa membalasnya melalui sikap mandiri. Dibesarkan di tengah keluarga yang mayoritas pria, menjadikannya sosok wanita yang mandiri, atau bahkan terlalu mandiri. Tak heran, meski pernah beberapa kali berkenalan dengan teman pria, tapi sejauh ini belum ada satu pun yang membuatnya nyaman menjadikan satu dari mereka sebagai sandaran ketika ia butuh tempat berlindung. Ada Tomi yang aristokrat, atau Roy yang cenderung melankolis, Budi yang cerdas tapi sedikit egois, Miko yang cuek tapi sangat perhatian, atau bahkan Pram yang santun namun sedikit misterius.
Semuanya berjuang merebut hati Dayu, primadona kampus di Universitas Padjadjaran yang dikenal cerdas, kritis, tegas tapi cenderung bimbang saat menentukan pilihan pada pria yang mungkin akan menjadi pendamping hidupnya kelak.
Kedekatan Dayu dengan ayahnya, sudah menjadi rahasia umum. Semua yang mengenal Dayu seakan mahfum bila melihat sorot mata wanita bertinggi hampir 170 centimeter ini yang menyimpan perasaan bangga, hormat sekaligus cintanya pada figur sang ayah.
Tidak heran, bila Dayu kerap kali sulit menemukan sosok pria yang punya kemiripan dengan figur ayah. Di mata wanita yang selalu menempati rangking pertama sejak di bangku SD ini, dan mendapat beasiswa sejak semester 3 hingga tuntas kuliah, figur ayah nyaris tak ada bandingannya. Seolah figur tanpa cacat.
AGENDA KERJA 1964 Saat langkah Dayu hendak beringsut keluar dari ruang kerja ayahnya, entah kenapa, langkahnya mendadak terhenti saat matanya tertuju pada punggung sebuah buku berukuran sedang, Agenda Kerdja 1964. Letaknya di antara himpitan buku teks tentang ilmu tanah berbahasa Belanda. Maklum Bram Nataatmadja, ayahnya Dayu, menguasai sedikitnya tiga bahasa asing secara aktif: Inggris, Belanda dan tentu saja Jepang. Perlahan buku berjaket kulit imitasi berwarna merah marun diambilnya dari rak buku yang menyimpan banyak cerita ini
Semula, Dayu tidak terlalu tertarik dengan buku agenda setebal centimeter ini. Setelah membolak-balik sebentar, tadinya Dayu akan mengembalikannya ke rak buku. Tiba-tiba, ”Hup!” secarik kertas putih terjatuh ke lantai dari himpitan lembaran kertas buku tua.
Setelah diamati, ternyata secarik amplop putih bergaris merah dan biru yang warnanya mulai memudar. Masih menggamit buku di tangan kiri, jemari kanan Dayu yang tampak terawat rapi berusaha menjangkau surat di lantai.
Tidak ada yang istimewa, di bagian muka tertulis jelas ”Dear Bram di Tempat,” dengan tulisan halus miring. Seakan ditulis dengan sangat hati-hati. Entah perasaan apa yang mendorong Dayu berusaha merogoh ke dalam amplop, yang jelas isinya hanya selembar kertas yang lagi-lagi warnanya putihnya sudah memudar dan mengeluarkan aroma apak.
Isi surat terbilang singkat. Seperti ungkapan perasaan yang penuh kasmaran. Mata Dayu menelusuri seiap kata, setiap baris, dan berusaha menghayati helaan nafas sang penulis.
Bandung, 1 Juli 1965
Yang terormat,
Kang Bram
Tak terasa kita sudah hampir 2 bulan tak berjumpa. Rindu membucah dalam dada tuk bersua dengan Akang. Banyak yang hal harus disampaikan. Tapi, situasi sekarang tidak memungkinkan kita sering bertemu. Dinda khawatir dengan keadaan Akang di Subang, takut terjadi apa-apa. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu apa pun.
Jangan sampai surat ini diketahui Teh Asti, ya Kang. Hubungan kita jangan sampai tercium oleh siapa pun, termasuk Teteh Asti, istri Akang.
Kalau ada waktu, secepatnya Akang segera ke Bandung, Dinda ingin segera bertemu, ada hal yang harus disampaikan. Seperti biasa, di tempat kita sering bertemu, di Jalan Tikukur.
Perlu Akang ketahui, hatiku hanya untuk Akang seorang.
Bila kita bertemu nanti, panggil saja namaku, Arimbi.
Peluk cium,
Arimbi.
Saat membaca setiap kata di surat yang ditulis dengan huruf sambung yang indah ini, nafas Dayu seakan tercekat. Hampir sekujur tubuhnya menegang di atas kusi kerja ayahnya. Seribu satu perasaan bercampur jadi satu. Kaget, geram, sekaligus remuk redam.
Bagaimana tidak, hanya dengan selembar kertas usang ini, hatinya serasa dirajam jutaan silet. Amarahnya meradang. Seluruh pikirannya kalut. Puncaknya, seakan seluruh langit runtuh menimpanya dalam kehampaan perasaan.
Setiap kali mencoba membaca tulisan yang berderet di atas kertas berukuran A5, beribu degupan memalu jantungnya. Dayu meruntuki kebodohannya. Ia menyesal harus membuka sampul surat. Hanya dalam waktu tidak kurang dari lima menit, sikap dan perasaanya pada almarhum ayahnya yang semula dipenuhi rsa hormat sekaligus cinta tanpa tepi berubah 180 derajat.
Kini, yang tersisa adalah rasa tidak percaya yang menggumpal dalam kerongkongannya. Tiba-tiba saja kecintaannya kepada ayah, sebagai figur kepala rumah tangga yang bertanggung, suami dari seorang istri yang sangat setia mentor yang senantiasa memberikan pencerahan ilmu, sekaligus sahabat yang mau berbagi cerita di kala suka dan duka sirna dalam sekejap.
”Ayah ternyata sama saja dengan pria lain, yang tidak pernah setia kepada pasangannya.”
Dayu merutuk dalam batin. Pikiran Dayu melayang ke masa-masa indah di waktu kecil dulu, menjadi ank kesayangan ayah, hingga dewasa. Gambaran ayah kini ibarat pigura pecah berkeping-keping.
Dayu hanya mampu menarik nafas dalam-dalam. Menarik dalam-dalam kepedihan dan kekecewaan hatinya.
Bersambung
Penulis: Hadi PM

Cerita Terkait :

» Namaku, Arimbi (Bagian 1)

» Namaku, Arimbi (Bagian 3)

» Namaku, Arimbi (Bagian 4)

» Namaku, Arimbi (Bagian 5)

» Namaku, Arimbi (Bagian 6)

» Namaku, Arimbi (Bagian 7)

» Namaku, Arimbi (Bagian 8)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|