Bookmark and Share


 
 



  Ana de Sousa (Bagian 2)

 
  “Jangan berpikir macam-macam,” katanya, sambil menepuk bahuku, saat mengantarku hingga depan ruangannya.

Aku pun mendapatkan jawaban yang sama, ketika bertanya kepada kakek dan nenek dari ayahku. Mereka mengatakan tidak mengenal Ana de Sousa, dan kesamaan nama dalam surat itu dengan namaku hanya sebuah kebetulan.

Aku mendesak mereka dan mengatakan bahwa bisa jadi aku adalah anak hasil hubungan gelap Ayah dengan wanita lain. Kakek marah, ia berkata bahwa sebagai satu-satunya anak dalam keluarga, aku tidak menghormati dan memercayai kedua orang tuaku.

“Meskipun kami tak menghadiri pernikahan orang tuamu di Dili dan tak melihatmu lahir, bukan berarti kami bisa memercayai pikiran burukmu itu,” katanya, dengan nada keras. Aku memang lahir di Dili. Saat itu, Ayah yang bekerja sebagai peneliti sedang bertugas di sana, sedangkan Ibu adalah perawat di rumah sakit Dili.

Awalnya aku akan menanyakan perihal surat Ana de Sousa itu melalui telepon. Tetapi, membicarakan persoalan ini rasanya tak cukup hanya melalui telepon. Aku lalu memutuskan datang ke Kota Lisbon, Portugal, tempat keluarga ibuku tinggal.

Tentu saja Nenek terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Inilah untuk pertama kalinya aku datang seorang diri ke Lisbon. Biasanya, aku selalu datang bersama kedua orang tuaku. Sejak mereka meninggal setahun lalu, aku belum pernah mengunjunginya. Jarak dan pertemuan yang jarang, hanya setahun sekali, itu pun jika kami memiliki waktu libur yang sama, membuatku tak terlalu akrab dengan keluarga ibuku.

Awalnya keluarga ibuku tinggal di Dili, lalu mereka pindah ke Portugal. Kakek memang berasal dari Portugal dan meninggal beberapa tahun lalu. Di rumah ini Nenek tinggal bersama adik ibuku yang paling kecil, yaitu Tante Leslie dan suaminya, serta dua anak perempuannya yang sudah remaja. Sedangkan adik perempuan ibuku yang lainnya tinggal bersama suaminya yang juga orang Portugal, tak jauh dari Kota Lisbon. Satu adik lelakinya tinggal di Australia.

Aku menanti saat yang tepat untuk menyampaikan maksud kedatanganku. Agar tak terkesan bahwa aku mengunjungi mereka demi sebuah kepentingan, demi surat Ana de Sousa.

Setelah makan malam, kuceritakan penemuan surat itu, sesantai mungkin, dan menganggapnya bukan hal yang penting. Kuperlihatkan surat itu kepada mereka, yang dibaca secara bergantian.

”Nenek kenal dengan Ana de Sousa?” tanyaku.

Nenek terdiam beberapa saat, seolah teringat sesuatu, lalu menggelengkan kepala. Tante Leslie yang menjawab.

”Kalau tidak salah, Ana adalah teman ibumu saat bekerja di rumah sakit di Dili,” ucap Tante Leslie, setelah menyebut berulang–ulang nama Ana de Sousa.

Ketika kutanya tentang kesamaan nama anak dalam surat itu dengan namaku, Tante Leslie yakin tak ada hubungannya denganku. Aku meragukan jawabannya. Lalu kutanya apakah ia tahu saat ibuku mengandung dan melahirkanku.

”Kami sudah berada di Portugal, ketika kau lahir. Sedangkan ibumu masih berada di Dili karena menunggu masa tugas ayahmu habis,” jawabnya setelah beberapa saat.

”Apakah Ibu pernah bercerita tentang sesuatu?”

”Kami mengenal baik Ana de Sousa. Ia sahabat ibumu, dan sering berkunjung ke rumah, tetapi ibumu tidak pernah bercerita apa pun tentang Ana de Sousa,” jawab Tante Leslie, menegaskan.

Aku bertanya, apa lagi yang ia ketahui tentang Ana de Sousa. Pertanyaan yang berulang-ulang yang kuajukan hanyalah sebuah trik untuk membuat Tante Leslie mau bercerita. Ketika kutanya alamat Ana de Sousa di Dili, Tante Leslie menjawab tidak tahu.

Tiba-tiba Nenek bangkit dari tempat duduknya, lalu berkata, ”Kau sebaiknya pindah ke sini, daripada di Jakarta seorang diri seperti itu, dan memikirkan yang tidak-tidak.”

Aku tak menyadari bahwa Nenek memperhatikanku sedari tadi. Ia tidak senang dengan caraku bertanya. Kemudian ia memarahiku dan mengatakan bahwa aku tak memercayai dan menghormati kedua orang tuaku. Aku diam, bahkan tak berani memandang wajahnya. Setelah itu, Nenek masuk ke kamarnya. Aku menyesal telah membuat acara makan malam itu menjadi tidak menyenangkan.

Nenek kecewa ketika aku berpamitan pulang. Ia berpesan agar aku sering-sering mengunjunginya. Satu lagi pesannya atau lebih tepatnya ia memintaku berjanji untuk tidak pergi ke Dili, dan melupakan tentang surat itu.
Sebuah janji yang akhirnya tidak bisa kutepati.

Aku membongkar seluruh uang tabunganku dan memanfaatkan masa libur mengajar sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi untuk pergi ke Dili, Timor Leste, meski perasaan takut menderaku.

Aku selalu punya kekhawatiran berlebih, untuk sesuatu yang belum terjadi. Semua itu lahir dari kebiasaan burukku yang selalu membayangkan sesuatu yang belum terjadi.

Aku belum pernah pergi ke Dili, meski lahir di sana. Mungkin karena keluarga besar ibuku seluruhnya berada di Portugal. Berita keamanan di Dili sempat membuatku mengurungkan niat itu. Apalagi, setelah aku tak berhasil menghubungi beberapa teman kuliahku dulu yang berasal dari Timor Leste. Kuharap mereka bisa membantuku. Tetapi, sebagian besar sudah pulang ke Timor Leste.

Beberapa teman pernah meledekku ketika menolak ikut berdemonstrasi, dengan mengatakan bahwa aku tak memiliki rasa nasionalisme, padahal aku lahir di Dili. Seorang teman bahkan mengatakan gen ayahku yang berasal dari Jakarta lebih dominan ketimbang ibuku yang berasal dari Timor Leste, sehingga aku tak punya perasaan memiliki terhadap Timor Leste. Entahlah, aku tak tahu.

Bersambung

Penulis: Dwi Ratnawati

Cerita Terkait :

» Ana de Sousa (Bagian 1)

» Ana de Sousa (Bagian 3)

» Ana de Sousa (Bagian 4)

» Ana de Sousa (Bagian 5)

» Ana de Sousa (Bagian 6)

» Ana de Sousa (Bagian 7)

» Ana de Sousa (Bagian 8)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :