
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Ana de Sousa (Bagian 3)

|
|
| |
Hari menjelang malam ketika sampai di Kota Dili. Hanya tinggal aku di angkutan umum ini. Sedangkan penumpang lain sudah turun. Aku memberi biaya tambahan kepada sopir angkutan umum untuk mengantarku ke hotel. Ternyata, hampir seluruh hotel penuh. Akhirnya, setelah beberapa kali keluar-masuk hotel, aku bisa mendapatkan kamar.
Pelayan hotel, bernama Julio, mengantarku ke kamar yang berada di lorong paling ujung. Sebuah kamar yang tidak terlalu luas, hampir seluruh dindingnya bercat putih, hanya kusen jendelanya yang berwarna cokelat tua. Kamar itu berisi sebuah tempat tidur berseprai putih, lemari kecil dari kayu tempat menyimpan pakaian, kipas angin menggantikan AC yang mati, sebagaimana dikatakan Julio saat mengantarku tadi, dan sepasang meja kursi sederhana, yang di depannya diletakkan cermin berbentuk persegi empat menempel di dinding. Kamar mandinya terdiri dari bak mandi dengan WC jongkok, tetapi cukup bersih dan terawat.
Sebetulnya, kamar itu terlalu mahal untuk tarif 70 dolar AS per malam, yang bila dikurskan dalam rupiah mencapai Rp700.000-an. Di Jakarta, tarif ini setara kamar standar hotel berbintang empat. Tapi, apa boleh buat? Biaya hidup di sini memang tinggi. Apalagi, hotel hanya menerima pembayaran dengan mata uang dolar AS.
Sebelum pergi, aku sudah menyiapkan sejumlah dolar dan rupiah. Saat memberi tiket beberapa hari lalu, petugas yang sepertinya telah pengalaman pergi ke sana memberitahuku agar menyiapkan uang dolar, selain rupiah. Dolar untuk transaksi di hotel dan restoran, sedangkan rupiah untuk transaksi kecil.
Perutku mulai terasa keroncongan menahan lapar sejak siang tadi. Setelah mandi, berganti pakaian, aku pergi ke restoran yang tak jauh dari hotel ini. Suasana restoran yang ternyata juga merupakan tempat karaoke itu terlihat remang–remang, dengan lampu yang seolah dibiarkan seperti itu. Aku mencari tempat duduk di pojok, kemudian memesan makanan. Restoran itu menyediakan masakan Indonesia, Cina, Portugis, dan Timor Leste.
Pelayan menawari makanan khas Timor Leste. Sepertinya ia tahu, bahwa aku bukan orang sini. Ia menyebut beberapa menu yang asing di telingaku, sambil menjelaskan jenis makanan tersebut.
Tiba–tiba aku teringat ibuku yang selalu mengkritik caraku memilih makanan saat sedang berkunjung ke suatu daerah. Katanya, jika kita sedang berada di daerah lain, cobalah makanan khas mereka.
Tetapi, seperti biasa, aku mencari makanan yang paling aman dan sudah familiar, yaitu nasi goreng dan jus jeruk. Meskipun, pelayan restoran itu merayuku, dengan gayanya yang memikat dan menggugah selera makan, layaknya seorang ahli kuliner.
Tak jauh dari mejaku, beberapa orang asing duduk sambil ditemani para wanita setempat yang berpakaian seksi. Mereka sepertinya berpasang–pasangan. Sesekali pria-pria asing itu merangkul dan mencium pasangannya, yang disambut senyum manja. Derai tawa mereka membuat suasana restoran menjadi ramai, ditambah pula dengan musik karaoke mengalun keras.
Saat sedang menikmati makanan, tiba–tiba seorang pria setengah baya berpenampilan terlalu rapi dengan sikap yang diramah-ramahkan menghampiriku. Ia memperkenalkan diri bernama Edi, mengaku sebagai pemilik restoran. Dari logat bicaranya, ia seperti berasal dari Jawa.
Ia bertanya tentang restorannya, bagaimana rasa makanannya, bagaimana pelayanannya, apakah ada yang kurang dari restoran ini. Dalam hati aku memuji caranya melayani konsumen.
Lalu kujawab masakannya enak, bumbunya pas. Pelayanannya pun cepat, karena memang demikian adanya, meski aku sedikit terganggu dengan suasananya. Ia tersenyum, puas dengan jawabanku, dan mengatakan sengaja membawa koki–koki terbaik dari Indonesia.
Setelah itu, ia duduk di kursi depan mejaku. Seolah hendak membicarakan sesuatu yang serius.
”Beberapa restoran dan bar saat ini sedang membutuhkan waiter, apalagi sebentar lagi akan dibuka panti pijat. Bayarannya pun dolar,” katanya, dengan penuh semangat.
Lalu ia bercerita tentang pundi–pundi dolar yang diraup selama membuka usaha di sini. Setengah memaksa ia meminta nomor teleponku dan tempatku tinggal. Dengan halus aku menolak dan mengatakan bahwa aku akan mempertimbangkan tawarannya.
Para wanita yang tengah bersama orang asing itu melirikku, mereka saling berbisik. Aku menyelesaikan makanku dengan tergesa–gesa, kemudian bergegas meninggalkan restoran itu dan kembali ke hotel.
Aku merasa sangat lelah, setelah melakukan perjalanan seharian tadi. Tetapi ternyata, rasa lelah tak membuat mataku mengantuk. Akhirnya aku duduk di sisi jendela, yang sengaja kubuka. Suara ketukan sepatu berhak tinggi dan suara-suara tawa melewati lorong kamar. Wajah–wajah wanita dengan mata menyudut, berkulit terang dan berambut berjalan berpasang–pasangan. Suara-suara itu menghilang seiring dengan bunyi pintu kamar yang dibanting.
Beberapa jam kemudian, pintu kamar di seberang kamarku terbuka. Sepasang pria dan wanita keluar dari kamar itu. Mereka berciuman, lalu berpelukan. Ketika merasa seseorang tengah mengamati, keduanya melepaskan pelukan sambil tertawa. Lalu masing–masing berjalan dengan arah berbeda, tanpa menengok lagi. Si wanita berjalan melewati lorong kamar, sedangkan si pria kembali ke kamar.
Konon, jika dua orang berpisah, berjalan dengan arah masing–masing, tanpa menengok lagi, berarti keduanya sudah melupakan apa yang pernah terjadi. Si pria mungkin akan mencari wanita lain, demikian pula halnya dengan si wanita.
Aku duduk hingga menjelang pagi, sebuah kebiasaan yang hadir belakangan ini. Aku bisa merasakan perjalanan malam yang merambat pelan dan bagaimana langit kemudian perlahan–lahan berubah. Tak banyak yang kulakukan, selain duduk seperti ini, memandang langit atau memperhatikan hal–hal kecil di sekelilingku.
Satu–satunya petunjuk yang kumiliki adalah bahwa Ana de Sousa pernah bekerja di rumah sakit Dili. Ia pasti seorang perawat seperti ibuku. Aku tidak tahu apakah dengan petunjuk seminim itu aku bisa menemukannya. Tetapi, aku yakin, ketika kita mulai melangkah, maka pintu–pintu kesempatan akan terbuka menyambut kita.
Kini, aku sudah berada di sini, maka kesempatan menemukan ibuku tak sejauh seperti ketika aku masih berada di Jakarta. Layaknya seribu langkah yang harus ditempuh, aku telah memulainya dengan satu langkah.
Aku menyetop taksi yang melintas di depan hotel. Taksi di sini adalah sebuah mobil Cevrolet tua berwarna hitam. Aku seperti tengah berada di luar negeri saat melihat banyaknya orang asing. baik tentara maupun sipil, dan kendaraan–kendaraan mewah yang berlalu-lalang di jalanan kota. Sementara pengemis yang sebagian besar anak–anak, berkeliaran menengadahkan tangannya kepada orang asing yang melintas. Sambil meneriakkan, ”Hello, Mister... rupiah, Miss....” Beberapa ada yang menjajakan koran.
Tak lama kemudian, aku sampai di rumah sakit Dili dan langsung masuk, menuju sebuah meja penerima tamu. Seorang wanita muda, bernama Venesa, menyapaku ramah dan menanyakan apa yang bisa ia bantu. Aku lega melihat sikapnya yang ramah.
Aku memperkenalkan diri dan mengatakan padanya bahwa aku sedang mencari seorang perawat bernama Ana de Sousa, yang berusia sekitar 50-an tahun. Merujuk tahun kelahiran ibuku, yaitu tahun 1957, usia Ana pasti tidak jauh berbeda dari usia ibuku. Ia mengulang-ulang nama itu, sambil membuka sebuah map. Meneliti satu per satu nama yang tertera di dalam map itu.
”Maaf, saya tidak menemukan nama Ana de Sousa. Sekalipun ada nama Ana, nama belakangnya bukan Ana de Sousa, dan umurnya pun dua puluh lima tahun,” katanya, setelah selesai meneliti.
Aku berpikir beberapa saat, mungkin Ana memang pernah bekerja di sini, tetapi kini sudah tidak lagi. Aku teringat tahun ibuku bekerja, yang kubaca di biodatanya, yaitu tahun 1976, dan pindah ke Jakarta pada tahun 1978. Perkiraanku, Ana de Sousa pasti bekerja pada tahun yang sama dengan ibuku.
”Katanya ia pernah bekerja di sini sekitar tahun 1976,” kataku, mengira–ngira.
Ia terkejut mendengar penjelasanku, kemudian berpikir beberapa saat. ”Di sini ada seorang perawat yang sudah lama bekerja, mungkin ia mengenal orang yang kau cari,” katanya.
Aku langsung setuju saat ia menawarkan diri untuk mengantarnya ke ruangan perawat itu.
Bersambung
Penulis: Dwi Ratnawati

Cerita Terkait :

» Ana de Sousa (Bagian 1)

» Ana de Sousa (Bagian 2)

» Ana de Sousa (Bagian 4)

» Ana de Sousa (Bagian 5)

» Ana de Sousa (Bagian 6)

» Ana de Sousa (Bagian 7)

» Ana de Sousa (Bagian 8)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|