
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Ana de Sousa (Bagian 6)

|
|
| |
Jalanan yang kulalui sangat terjal dan menurun, terkadang curam, melewati perbukitan. Aku harus berjalan perlahan mengikutinya. Sesekali Mario harus memegangi tanganku. Aku tidak tahu bagaimana ia membawaku kemarin. Setelah hampir satu jam, aku tiba di sebuah jalan yang menghubungkan dengan jalan beraspal. Aku ingat persimpangan jalan itu.
”Aku menemukanmu di sana,” katanya, menunjuk persimpangan jalan.
Beberapa orang menghampiri Mario. Mereka menjauh dariku, lalu berbicara cukup lama. Setelah itu, Mario menghampiriku.
”Terima kasih sudah menolongku,” kataku, sebelum berpisah.
”Pulanglah. Aku tak mau melihatmu ada di sini lagi,” katanya, dengan suara tegas mirip perintah.
Aku bergegas naik ke motor, temannya sudah siap di motor untuk mengantarku. Aku tak berani menengok lagi. Ia mengantarku sampai hotel.
Aku membuka buku catatan perjalanan, yang kutulis pada sebuah buku yang mirip buku harian, lengkap dengan waktu, tempat, serta orang–orang yang kujumpai. Aku mencatatkan peristiwa itu, tetapi tidak menuliskan nama Mario, melainkan menulis namanya dengan menyebut seorang pria. Siapa sesungguhnya pria itu? Beragam dugaan memenuhi benakku.
Esoknya, aku memeriksakan lengan dan bahuku, walaupun luka itu sudah mulai mengering. Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa lukaku tidak berbahaya. Ia membersihkan luka itu dan mengganti kain yang membungkus dengan perban. Ternyata, tusukan itu menyisakan segaris coretan cukup panjang di lenganku. Dokter menanyakan penyebab luka itu, aku menjawab bahwa aku terjatuh. Dokter itu menatapku heran, seolah tak percaya.
”Bagaimana bisa terjatuh dengan luka separah ini,” katanya.
”Aku berada di dekat pagar besi saat terjatuh,” kataku, sambil berpura–pura memperagakan bagaimana ujung besi bisa mengenai bahu dan lenganku.
Saat ia berhenti bertanya, aku merasa lega. Setelah peristiwa itu, aku memang mengalami trauma dan merasa takut bila berjalan seorang diri dan merasa seseorang membuntuti. Bahkan, saat sedang berada di kamar hotel, saat mendengar langkah orang yang berjalan, jantungku berdegup cepat.
Surat Ana de Sousa telah menyedot seluruh perhatian hidupku. Bahkan, aku sampai lupa mengurus beasiswa S-2 yang kudapat dengan susah payah.
Aku baru ingat, ketika staf dari departemen tempatku mendapatkan beasiswa menghubungiku. Dia mengatakan, pihaknya terpaksa mencoretku dari daftar penerima beasiswa, jika sampai batas waktu yang ditentukan aku tak kunjung datang dan menyerahkan berkas persyaratan.
Hampir satu minggu berada di Kota Dili. Tetapi, aku belum menemukan petunjuk apa pun tentang Ana de Sousa, selain peristiwa–peristiwa yang menegangkan dan tak terpikirkan akan kualami.
Aku tidak menyangka bahwa pencarian Ana de Sousa akan menjadi sepanjang ini. Awalnya aku menduga akan berada di sini tak lebih dari tiga hari. Sepertinya aku akan lebih lama lagi berada di sini, karena aku benar-benar bertekad untuk melanjutkan pencarianku dan mengabaikan beasiswa itu. Keinginan terkadang membuat kita mengabaikan akal sehat.
Kini, aku mencoba dengan cara lain.
Aku mendatangi kantor polisi dan membuat laporan kehilangan pada polisi setempat. Sebelum polisi yang melayaniku bertanya tentang hal yang lain terkait Ana, aku menjelaskan padanya bahwa aku tidak memiliki informasi lain selain Ana pernah bekerja di Rumah Sakit Dili dan sudah mencarinya ke sana, tetapi tak menemukan. Meski ragu karena informasi yang kusampaikan tidak lengkap, ia berjanji akan membantuku.
Tak jauh dari kantor polisi, kulihat sebuah pertemuan yang diadakan oleh sebuah organisasi wanita, dalam rangka mendengarkan kesaksian para wanita korban kekerasan perang.
Aku masuk ke ruang pertemuan dan berlaku layaknya seorang wartawan. Di sela–sela acara, aku berbincang dengan para peserta, sambil menyelipkan perbincangan bahwa aku sedang mencari seorang wanita bernama Ana de Sousa, kemudian memberikan nomor ponselku.
Seorang peserta memberikan kesaksian tentang kekerasan dan pelecehan yang ia alami. Suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca. Ia menguatkan dirinya untuk terus bercerita. Ibarat sebuah buku kesaksiannya seperti membuka lembaran–lembaran buku itu. Tiba–tiba ia jatuh pingsan.
Aku membantu menggotongnya dengan beberapa orang keluar ruangan. Sepertinya ia sangat tertekan. Beberapa saat kemudian ia siuman. Ia berbisik pada seorang wanita seusiaku yang tadi ikut menggotongnya. Wanita itu menghampiriku, menanyakan siapa namaku dan berapa umurku.
”Ia teringat anaknya. Kau mirip dengan anaknya yang hilang,” katanya.
”Berapa umur anaknya?” tanyaku.
Aku berharap menemukan kesamaan, sebuah harapan yang sering kali muncul, saat aku bertanya tentang Ana de Sousa.
”Ketika itu anaknya berusia lima belas tahun, mungkin sekarang sekitar empat puluh tahun,” jawabnya, sambil memandangku.
Wanita yang tadi pingsan meminta izin untuk memelukku. Aku mendekat dan membiarkannya memelukku. Aku membayangkan, bila bertemu dengan Ana nanti, apakah ia akan memelukku seperti ini? Setelah itu, aku meninggalkan ruangan dan tak kembali ke ruang pertemuan.
Esoknya, aku mendatangi kantor harian lokal untuk memasang iklan berita kehilangan dan mencantumkan nomor ponselku.
Saat keluar dari kantor harian lokal itu, jalanan terlihat sangat ramai oleh penduduk lokal yang berkumpul di hampir setiap sudut jalan. Aku tidak tahu bagaimana awalnya, ketika dalam beberapa menit ratusan orang berjalan dengan langkah cepat dan tergesa–gesa, seolah tengah dikejar sesuatu.
Aku terjebak di antara kerumunan massa yang tanpa komando berlarian ke tengah jalan, sambil melempari polisi yang hendak menghalau mereka. Sebagian menjarah toko–toko di sisi jalan.
Api dan asap berkejaran di antara toko dan kendaraan milik pemerintah dan turut dibakar. Seiring dengan itu, suara letusan bersahutan. Orang berlarian, menyelamatkan diri. Beberapa orang terkapar di jalan. Badanku bergetar menahan takut dan lututku terasa lemas, hingga tak sanggup berjalan. Aku bersembunyi cukup lama di belakang sebuah toko yang dijarah massa.
Sayup–sayup aku mendengar suara seseorang meringis menahan sakit. Aku menghampiri arah suara itu dan menemukan seorang pria tergeletak dengan darah mengucur di pahanya. Saat melihatku, ia mengarahkan senjata laras panjangnya. Setengah ketakutan aku mengangkat kedua tanganku. Aku melirik menatap wajahnya dan mengingatkanku pada seseorang.
”Mario,” kataku, setelah yakin itu adalah dirinya.
Ia menurunkan senjatanya, aku menghampirinya dan tanpa diperintah membantunya bangun. Lalu memapahnya menjauh dari tempat itu. Ia menunjuk jalanan yang harus dilewati. Suasana makin ramai dan letusan makin sering terdengar. Mario menolak, ketika aku akan mengantarnya ke rumah sakit. Akhirnya, aku membawanya ke hotel tempatku menginap, dengan menyetop angkutan umum yang kebetulan lewat.
”Carilah jalan, agar tidak terlihat banyak orang,” pesannya ketika sampai di depan hotel.
Aku memapahnya melewati jalan samping. Sesampainya di kamar, aku membaringkannya di tempat tidur. Ia meringis menahan sakit, tetapi tetap menggenggam senjata laras panjangnya.
Ia memberi instruksi dengan terbata–bata agar aku mencari minuman beralkohol. Aku menuruti perintahnya. Bergegas pergi ke restoran tempatku makan dulu, aku berharap tidak bertemu dengan Edi, si pemilik restoran.
Pelayan restoran menyebut beberapa jenis minuman beralkohol yang aku tidak mengerti semuanya. Aku menjawab apa saja. Ia terlihat heran dengan jawabanku, kemudian memberi sebotol minuman yang aku tidak tahu jenisnya.
Saat aku kembali ke kamar, Mario sedang membakar ujung pisau belati dengan korek api gas miliknya. Setelah menenggak minuman yang tadi kubawa, ia menggigit ujung bantal. Matanya terpejam, saat ujung belati menyentuh pahanya, perlahan–lahan makin dalam, seperti mencongkel kerikil dari tanah liat. Benda itu jatuh. Ia meminta aku memungut benda itu, kemudian memberikan padanya. Ia memandang benda itu, melepas gigitan bantal di mulutnya, kemudian tersenyum.
Setelah itu, ia kembali mengigit bantal. Matanya terpejam dalam dan urat–urat di lehernya tampak menonjol, saat minuman alkohol membasahi luka bekas congkelan peluru. Sumpalan di mulutnya tak mampu menahan teriakannya. Aku mendengar erangannya, melukiskan rasa sakit yang mendera.
Bersambung
Penulis: Dwi Ratnawati

Cerita Terkait :

» Ana de Sousa (Bagian 1)

» Ana de Sousa (Bagian 2)

» Ana de Sousa (Bagian 3)

» Ana de Sousa (Bagian 4)

» Ana de Sousa (Bagian 5)

» Ana de Sousa (Bagian 7)

» Ana de Sousa (Bagian 8)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|