Bookmark and Share


 
 



  Kepak Sayap Merpati (Bagian 3)

 
 


Tanpa menyalakan lampu, Ben memasuki apartemen. Setelah melepas sepatu dan jaket, ia berbaring di atas sofa. Bau sisa makanan dari bawah sofa memaksanya kembali bangun. Ia meraih piring sisa kebab yang bagian atasnya sudah dilapisi bercak-bercak berbulu berwarna putih keabuan.

Ia berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Tidak banyak pilihan di sana. Hanya beberapa buah tomat mini dan sebuah kotak susu. Ia meraih kotak susu dan membaca tanggal kedaluwarsa. Setelah mengendus isinya, ia yakin susu itu masih bisa diminum. Ia memutuskan untuk sedikit memanjakan dirinya dengan memesan pizza.

Pesawat telepon berkelap-kelip tanda ada pesan. Hanya ada satu pesan yang ditinggalkan oleh seorang direktur sebuah rumah panti jompo. Pesan kedua terdengar suara helaan napas. Ben menduga suara itu adalah suara ibunya. Ibunya ingin mengatakan sesuatu, tapi lupa untuk mengatakan apa yang ingin disampaikan. Bukan hal yang pertama sejak dua bulan terakhir ini.

Pesanan pizza-nya datang 13 menit lebih lambat dari yang dijanjikan di brosur, tapi masih hangat. Ben menyalakan pesawat televisi tanpa membesarkan suara. Ia suka menonton televisi, seperti menyaksikan film bisu. Ia bisa mengganti dialog sesuai dengan kata hatinya. Setelah perutnya kenyang, kelopak matanya kembali terasa berat. Ia meletakkan kardus pembungkus pizza di bawah sofa. Ia berniat memakan sisanya sebagai sarapan besok pagi.

Ben tertidur sampai merasakan hidungnya kemasukan air. Dengan napas tersengal-sengal, ia meraba pergelangan tangan untuk merasakan denyut nadi. Bibirnya masih terasa asin dengan sentuhan aroma daun basil dan oregano. Ia memaki dirinya sendiri. Beginilah akibatnya kalau orang tidur tanpa sikat gigi. Hanya membawa mimpi buruk. Ia menutup jendela yang terbuka. Tidak heran jika ia kedinginan.

Dengan langkah gontai, Ben berjalan ke kamar mandi dan mengamati wajahnya di depan kaca. Ia seperti melihat daging ayam utuh yang baru dikeluarkan dari kulkas. Ben membasuh muka dengan air dan menggosok gigi. Satu jam lagi ia harus memenuhi janji dengan seorang direktur sebuah panti jompo, sesuai dengan pesan yang ia dengar di pesawat telepon.

Dari pengalamannya setelah mengunjungi 5 panti jompo yang berbeda, Ben menyimpulkan, Sabtu pagi adalah hari sebuah panti jompo berubah menjadi tempat pertemuan keluarga. Tidak heran jika semua tempat parkir penuh. Ia memutari lapangan parkir sekali lagi dan mempercepat laju mobil, ketika melihat sebuah mobil bergerak keluar meninggalkan satu celah.

Setelah parkir, Ben mengamati gedung memanjang berlantai empat dengan jendela-jendela kayu bercat putih. Arsitekturnya lebih menyerupai arsitektur hotel berbintang daripada bangunan panti jompo yang pernah ia kunjungi. Ia berhenti sesaat di depan pintu otomatis dan mengibaskan tangan seperti seorang pesulap.
Memasuki gedung itu, Ben benar-benar merasa seperti berada di sebuah lobi hotel berbintang. Ia menghampiri meja penerima tamu dan mengatakan sudah mempunyai janji dengan direktur panti. Penerima tamu mengecek layar komputer dan mempersilakannya untuk menunggu.

Ben bangkit dari tempat duduknya, ketika dua orang pria menghampirinya. Pria berdasi setengah baya memperkenalkan dirinya sebagai pimpinan panti jompo, sementara pria yang berdiri di belakangnya adalah asistennya. Asisten itu yang akan memandu kunjungan Ben di panti jompo dan menjawab pertanyaan. Ben mengangguk. Pria berseragam putih seperti seorang perawat itu mempersilakan Ben untuk mengikutinya. “Kami tidak menamakan tempat ini panti jompo, melainkan kediaman ‘Vivaldi’, rumah untuk para senior. Kami menawarkan kamar dan apartemen pribadi. Setiap kamar dilengkap­i kamar mandi sendiri, balkon, pesawat telepon dan televisi.” Pria itu membuka satu kamar dan menunjukkan isinya.

“Beberapa unit apartemen dibangun menyerupai paviliun kecil. Lengkap dengan ruang tamu, meja makan dan dapur,” lanjutnya lagi, sambil menunjuk sederet paviliun yang dibangun di sisi gedung utama dari jendela. “Selain itu kami juga menyediakan fasilitas dapur umum, ruangan untuk acara keluarga, kapel, salon, ruang fitness dan rehabilitasi. Setelah ini, saya akan menunjukkan fasilitas yang lain,” katanya, sambil mempersilakan Ben masuk lift.

“Bagaimana dengan kegiatan di luar?” tanya Ben, sambil mengamati kolam renang berbentuk segi empat dari dinding kaca. Ukurannya cukup besar untuk menampung seluruh penghuni panti.

”Secara teratur kami menyediakan kegiatan di luar, seperti menonton konser, kursus dansa dan tur luar kota. Kami bahkan memiliki kendaraan bus sendiri untuk keperluan tersebut.” Sebuah melodi terdengar dari arah kantong celana perawat tersebut. Tergopoh-gopoh pria itu mengambil telepon genggam. Setelah mengatakan ‘ya’ dan ‘segera’, pria itu meminta maaf karena ada hal mendadak yang harus diselesaikan.


Bersambung

Penulis: Budi Pratiwi Sossdorf

Cerita Terkait :

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 1)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 2)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 4)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 5)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 6)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 7)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 8)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 9)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 10)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 11)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 12)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :