
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Kepak Sayap Merpati (Bagian 7)

|
|
| |
Sewaktu mereka pindah ke rumah yang baru, rumah itu belum sepenuhnya jadi. Di sana-sini masih ada bagian yang harus diselesaikan. Teras yang belum dibangun, balkon yang masih dipulas semen. Rumah itu dibangun dengan fondasi hubungan orang tuanya yang sudah retak. Ayahnya dari hari ke hari makin menarik diri. Ia menghabiskan waktu dengan duduk berjam-jam di ruang kerjanya. Ia makin jarang menerima klien. Kadang-kadang ia menghilang di ruang bawah tanah. Katrin hanya melihat beberapa koleksi minuman keras mendiang kakeknya dalam botol-botol miniatur mulai kosong.
Sebagai kompensasi, ibunya terus menghias dan memenuhi rumah dengan barang-barang yang mengingatkannya pada kampung halamannya. Walaupun ia sudah mulai kehabisan tempat untuk meletakkan pot-pot bunga di dalam rumah, ia tetap mengumpulkan tanaman anggrek, pohon pisang, serai, cabai, tomat hijau, bahkan pohon avokad. Suatu hari ayahnya memutuskan untuk menjual rumah tersebut.
“Aku tadi pergi ke bank dengan maksud mengambil kredit baru. Kau tahu apa yang dikatakan pegawai bank? Kita lebih baik menjual rumah itu daripada mengambil kredit baru. Utang kita di bank sudah terlalu menumpuk, tidak bisa lagi mengambil kredit.
“Bagaimana kalau aku bekerja penuh, Her? tanya ibunya.
“Siapa yang akan mengurus Katrin? suara ayahnya mulai keras.
“Aku bisa titipkan di tempat penitipan anak. Ada ibu asuh di sekitar sini, aku sudah membacanya di koran.
“Dan membiarkan anakmu dididik oleh orang lain? Lagi pula, biaya penitipan anak tidak sedikit. Dengan gajimu yang tidak seberapa, kau hanya akan membuang uang dari jendela. Kita jual saja rumah ini. Aku sudah tidak sudi lagi membayar angsuran kredit. Berapa tahun aku baru bisa melunasi utang tersebut? Dua puluh, tiga puluh tahun? Sampai masuk liang kubur pun tidak akan lunas.
“Her, tolong dipikirkan lagi. Aku sudah membuat sepotong kampung halaman di tempat ini. Sayang kalau kita harus mulai dari awal lagi. Bagaimana dengan ibumu, mungkin ia bisa sedikit menolong.
“Ibuku jangan disangkut-pautkan dengan urusan rumah ini. Dari uang pensiunnya kau tidak bisa berharap banyak. Kau tahu sendiri, ayahku cuma mewariskan koleksi botol kecil minuman keras. Kalau kau punya utang segunung, hidup di kampung halamanmu sendiri pun tidak bakalan nyaman, sahut ayahnya. Ibunya terdiam.
Berbulan-bulan ibunya menolak usul ayahnya untuk menjual rumah itu. Ayahnya sama sekali sudah menggantungkan palu dan gergaji. Entah atas pertimbangan apa, ibunya akhirnya menyetujui usulan untuk menjual rumah. Ia mengatakan, untuk liburan musim panas kali ini, ia ingin sekali membawa Katrin pulang ke Indonesia. Sejak membangun rumah, keuangan memang selalu pas-pasan. Tapi, ia sudah tidak pulang selama empat tahun. Ia menyetujui untuk menjual rumah itu, dengan syarat ayahnya harus menunggu sampai mereka kembali. Hanya satu bulan, janji ibunya. Ayahnya menyetujui. Awal pelarian Katrin.
Setelah bertemu dengan kakek dan neneknya di Bogor, Katrin diajak ibunya hidup berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain. Hanya dalam hitungan minggu, mereka menetap dari keluarga satu ke keluarga lain. Katrin selalu bertanya tentang keberadaan ayahnya. Ibunya menjawab, ayahnya tidak bisa ikut karena harus bekerja. Mereka harus sedikit bersabar.
Lama-kelamaan ibunya membentaknya, setiap kali ia bertanya tentang ayahnya. Walaupun kerinduannya hampir tidak tertahankan, Katrin lagi-lagi berani bertanya. Akhirnya ibunya memilih tinggal di keluarga pamannya yang memiliki usaha penginapan terapung di Karimunjawa. Di tempat itu Katrin didaftarkan di salah satu taman kanak-kanak.
Katrin sudah menganggap tempat itu sebagai rumahnya, sampai suatu hari dua orang turis berjalan di depan taman kanak-kanaknya. Ia begitu senang, karena ia mengerti bahasa mereka. Ia berteriak selamat pagi dalam bahasa tersebut. Kedua turis itu menjawabnya. Sejak kedatangan mereka di Indonesia, ibunya tidak pernah mau berbicara dan mendengar bahasa itu lagi. Ia begitu senang bisa berbicara lagi dengan bahasa ayahnya, sampai ia tidak keberatan untuk difoto.
Satu tahun setelah peristiwa itu, ayahnya berdiri di depan pintu kelas. Ia tidak sendirian. Beberapa laki-laki berpakaian dinas menyertainya. Pertama melihat, Katrin hampir tidak mengenalinya lagi. Setelah keraguannya hilang, ia berteriak kegirangan dan berlari memeluk ayahnya. Laki-laki itu mengatakan, ia akan membawanya pulang. Tapi, tempat ini rumahku, jawabnya. Ayahnya menggeleng.
Tanpa mengemasi barang-barangnya, ayahnya membawanya pergi. Di rumah yang baru sudah menanti baju-baju dan mainan yang lebih bagus, bujuknya. Katrin hanya sempat melambaikan tangan kepada teman-temannya dan ibu guru Hermin yang berdiri di halaman. Ia ingat benar bagaimana ibunya memanggilnya di sepanjang pantai. Ia berlari mengejar kapal ferry yang membawa mereka pergi. “Ari... Ari...! teriak ibunya di dermaga. Hanya ibunya yang memanggilnya dengan nama tersebut.
“Nona Sommer!’’ Katrin mendongak. Ia melihat Dokter Klaus sudah berdiri di depannya. “Selamat pagi, Nona Sommer, bagaimana perasaanmu hari ini? tanya psikiater yang menangani Katrin di rumah sakit. Tanpa mengenakan jas panjang putih, Dokter Klaus terlihat seperti pensiunan yang biasa membeli telur atau sayur di supermarket atas suruhan istri mereka.
“Baik, jawab Katrin.
“Setelah pertemuan terakhir, aku tidak menemukan alasan untuk menahanmu di tempat ini. Asal berjanji untuk datang ke pertemuan berikut, hari ini kau boleh pulang. Kau bisa langsung berbicara dengan Nyonya Reuter untuk mengatur pertemuan berikut. Apakah aku sudah menulis resep untukmu? tanyanya
Katrin mengangguk. Ia seakan bisa mencium bau yang akan menyerbak dari pori-pori tubuhnya, setelah satu minggu meminum butiran pil. Bau kamar mandi rumah sakit setelah dibersihkan dengan karbol. Setelah membuat janji untuk pertemuan berikut, ia berjalan kaki menuju stasiun kereta api bawah tanah. Setelah melewati dua stasiun, Katrin turun di stasiun utama Dortmund. Di belakang stasiun itu terdapat kawasan Nordstadt, sebuah tempat bernama Borsigplatzviertel.
Bersambung
Penulis: Budi Pratiwi Sossdorf

Cerita Terkait :

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 1)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 2)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 3)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 4)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 5)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 6)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 8)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 9)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 10)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 11)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 12)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|