
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Kepak Sayap Merpati (Bagian 10)

|
|
| |
“Selamat datang di Karimunjawa,“ sambut seorang staf hotel. Segelas cocktail tetap tidak mampu menyatukan jiwa dengan raganya. Hanya pasir putih dan deburan ombak yang menyadarkan bahwa ia tidak berada di Dortmund lagi.
Seorang staf hotel dan seorang pria setengah baya menghampiri mereka. Katrin masih bisa mengenali wajah salah satu pria. Walaupun berat badannya paling tidak sudah bertambah 30 kg, raut wajahnya masih sama. Tanpa sepengetahuan Ben, ia sebenarnya baru berani menelepon pamannya setelah mereka sampai di Jakarta. Setelah prolog yang tersendat-sendat karena disampaikan dengan rasa gugup dan bahasa yang campur aduk, ia berhasil mengatakan siapa dirinya dan maksud kedatangannya.
Pamannya mengatakan, ibunya sudah menikah lagi dan tinggal di Semarang. Ia akan datang sore ini, untuk itu ia meminta Katrin menginap di tempatnya, di Pulau Karimunjawa Besar.
“Ben, aku harus ikut pamanku,“ kata gadis itu, sambil mengikuti pamannya. Mereka berjalan menuju ke perahu boat yang ditambatkan di pantai. Ben mengangguk. Ia merasa lega, karena tidak harus menyaksikan secara pribadi pertemuan antara ibu dan anak tersebut. Setelah check in, Ben memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan mengenali resor dan mengitari pulau. Selain segelintir turis asing dan pegawai resor, pulau itu tidak berpenghuni.
Hari berikutnya Katrin tidak datang menemuinya. Ben berpikir mungkin ia tidak akan pernah melihatnya lagi. Ia tidak akan heran, jika gadis itu memilih menetap di tempat ini. Siapa yang mau meninggalkan surga dunia?
Di luar dugaan Ben, sehari sebelum jadwal pulang, Katrin datang menemuinya. Gadis itu mengenakan celana pendek dan kaus lengan panjang berwarna putih. Rambutnya yang panjang lurus tergerai ditiup angin. Untuk pertama kalinya Ben melihat senyum di matanya. Mereka berjalan menyusuri pantai. Waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi, tapi sinar matahari sudah menyengat kulit. Tidak ada seorang pun terlihat di pantai itu. Hanya suara debur ombak memecah pantai.
“Bagaimana pertemuan dengan ibumu?“
“Baik. Aku sudah meninggalkan negara ini selama 15 tahun tapi semuanya tidak menjadi asing. Ibuku menunjukkan ratusan surat yang ia kirim ke tempat nenekku. Semuanya dikembalikan lagi. Ia bahkan pernah menelepon nenekku dan memohon supaya boleh bicara denganku.“
Ben tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Ia teringat kata-kata Alex. Kalau seorang wanita sedang sedih, pria sebenarnya tidak perlu banyak berkomentar. Dengarkan saja, kalau perlu dipeluk. Metode yang dijamin bisa membuat wanita merasa bisa dimengerti. “Hmm... aku tidak ingin bertanya sesuatu yang tidak sopan. Dengan kaus lengan panjangmu itu, apakah tidak kepanasan?“ tanya Ben, mengalihkan pembicaraan. Gadis itu menatapnya sedikit terbelalak, memamerkan bola matanya yang berwarna cokelat. Ia pasti tidak mengira Ben akan mengomentari kaus lengan panjangnya.
Aku pernah membeli botol minuman keras di supermarket itu. Isinya sudah aku tuang di gelas, tapi tidak jadi diminum. Baunya mengingatkanku pada bau ayahku, setiap kali ia memukuliku.“ Jawaban gadis itu seperti tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang diajukan. Ia kemudian menggulung lengan baju dan menyodorkan kedua tangannya. Ben melihat bekas luka goresan yang sudah lama, tampak berjejer tidak beraturan di kedua lengan tersebut.
“Kalau tidak ada darah yang keluar, bagaimana rasa sakit di hatiku juga bisa keluar? Apakah kau pernah merasa bahwa kau tidak mempunyai emosi lagi, Ben? Kau tidak tahu lagi apakah harus marah, sedih, atau tertawa.“ Ben melihat sebuah benda tipis hitam mengilat di tangan Katrin. Ia heran di mana gadis itu menyembunyikan silet itu.
Katrin menggenggam erat jemari Ben. “Jangan bergerak,“ perintahnya. Ia menorehkan luka memanjang di pergelangan tangan Ben. Ben merasakan sesaat rasa panas dan perih menjalar sampai ke seluruh persendiannya.
Bagaimana rasanya?“ tanya gadis itu.
Sakit,“ jawab Ben.
“Itu karena engkau masih bisa merasa Ben. Aku berhenti melakukannya, saat aku diterima bekerja di supermarket. Waktu itu aku seperti mendapat undian berhadiah. Aku tidak mau jika pelanggan di supermarket itu berpikiran bahwa mereka berhubungan dengan orang yang sakit jiwa.“
Katrin berdiri dan melepaskan pakaiannya. Dengan sudut matanya, Ben melihat gadis itu memakai bikini yang ukurannya sudah kekecilan. Katrin berjalan menuju pesisir, menyentuh air dengan jari-jari kakinya yang telanjang. Ayo, Ben, berenang! serunya.
Ben menatap buih air laut. Ia berusaha keras mengingat nama penyakit jiwa yang pernah ia pelajari sekilas di sebuah seminar. Bukan penyakit jiwa atau gila, pikir Ben, tapi gangguan kepribadian. Orang-orang yang mempunyai kecenderungan untuk melukai dirinya sendiri, supaya bisa merasa, untuk melepaskan diri dari perasaan bersalah, untuk... Ben merasa mendengar otaknya bekerja. Apa namanya? Borderline syndrome? Sebuah bayangan masa lalu menghampiri pikirannya.
Bersambung
Penulis: Budi Pratiwi Sossdorf

Cerita Terkait :

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 1)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 2)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 3)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 4)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 5)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 6)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 7)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 8)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 9)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 11)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 12)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|