Bookmark and Share


 
 



  Lewat Secangkir Kopi (Bagian 3)

 
 


Shota pulang tepat sebelum Magrib. Aku membuat kopi panas. Ia selalu suka kopi yang masih panas. Jika sudah mulai mendingin, tak akan ia sentuh. Karena itulah, aku selalu membuatkan kopi setiap kali desingan suara mesin mobilnya terdengar.

Kebiasaan ini sudah kuketahui sejak ia menjadi pelanggan setia di kedaiku. Ia biasanya memesan kopi yang panas dan saat kuantar kopi tersebut ke mejanya, ia selalu langsung meminumnya tanpa harus membuka koran atau laptop-nya dan menunggu kopinya mendingin. Ia memang berbeda.

Langkah Shota terdengar makin dekat menuju lantai dua. Edo dan beberapa karyawan kedai berada di bawah untuk melayani para pelanggan. Pada jam–jam Shota pulang, aku selalu menyempatkan diri untuk berada di rumah kami, lantai dua, untuk memberikan senyuman pada pandangannya yang tetap tak berubah: seperti tak hidup di dunia ini.

Cangkir kopi merah maroon favoritnya selalu kuletakkan di depan meja teve. Setiap kali ia beranjak ke atas, wajah yang selalu ia lihat adalah wajahku. Memang begini kenyataannya, karena kami punya tujuan yang sama dalam menikah, maka kami pun setidaknya harus bisa saling berteman dengan baik.

“Maaf, terlambat,” Shota sedikit menundukkan kepalanya dan menatapku, kemudian menatap cangkir kopi.

Kadang–kadang ia segera masuk kamar hanya untuk mengganti pakaiannya dan kembali lagi ke ruang teve dengan kaus lengan panjang dan celana pendeknya. Tapi, kali ini ia langsung duduk sambil mencari remote.

“Tidak mandi dulu?” aku mendekatinya, masih memakai celemek berwarna hijau merah khas kedaiku.

Shota melirik sebentar, kemudian kembali lagi menatap teve. Aku lalu beranjak dari sofa menuju tangga. Bukanlah hal yang bagus sebenarnya, kalau mengajak Shota berbicara. Rasanya ia sudah pendiam dari sono-nya, jadi aku tidak perlu lagi merasa sakit hati, setiap kali pertanyaanku tidak ia jawab.

“Mau ke mana?” tiba–tiba Shota bertanya ketika aku telah turun satu tangga menuju kedai.

“Bantu Edo.”

“Oke,“ ucap Shota lagi. Kali ini tangan kanannya sedang memegang cangkir kopi.

“Sudah makan belum?” tanyaku akhirnya, mengetahui bahwa ia punya selera makan yang kurang begitu bagus.

“Nanti aku turun setelah mandi.”

“Oke!” Aku kembali melangkahkan kakiku ke tangga berikutnya. Namun, di tangga ketiga, Shota meneriaki namaku. Kontan aku diam dan segera menoleh ke arahnya, “Kenapa?”

“Bento-mu tadi pagi... eh... hmm... enak!” ucapnya, ragu–ragu. Suaranya berubah sangat pelan, mungkin ia malu pada kata–kata yang ia lontarkan. Aku hanya tersenyum membalasnya dan kembali turun ke kedai. Tidak yakin apa yang sedang kurasakan, namun aku ingin tersenyum lebar.

“Mbak? Mbak?” aku seperti mendengar suara Edo di telingaku. Aku belum menyadari apa pun, sampai Edo mencoba menepukku ringan dengan nampan.

Cepat–cepat kuambil nampan tersebut dari tangannya dan kulemparkan pukulan ringan ke punggungnya. Edo berteriak meledekku, sementara aku kesal karena dia menggodaku.

“Do, aku kan sedang serius konsentrasi. Kok, kamu gangguin.”

“Konsentrasi apa, sih, Mbak?” ledek Edo.

Anak ini sering betul membuatku tersipu malu atau kadang–kadang bertingkah aneh. Mungkin karena aku memang tidak punya saudara di rumah, berhubung aku anak tunggal, keberadaan Edo sangat membuat hatiku kembali muda. Kekonyolannya dan hal–hal bodoh yang ia lakukan sejujurnya membuatku senang.

“Kamu sudah makan?” Aku menoleh ke arah Edo. Kali ini ia sedang membuatkan secangkir ice cappuccino dengan sepiring kecil croissant. Edo mengangguk ke arahku. Aku bermaksud mengajak Edo bergabung untuk makan bersama dengan Shota, jika ia belum makan. Tapi, karena Edo sudah makan, aku segera meninggalkannya menuju satu ruangan paling spesial yang Shota dan aku pakai sebagai ruang makan kami.

Aku berjalan melewati lorong di belakang kedai ke satu ruangan yang di belakangnya ditumbuhi tanaman–tanaman hijau dan beberapa bunga berwarna mencolok. Pintu ruangan tersebut langsung menuju halaman belakang. Sebenarnya ruangan ini baru dibuat Shota seminggu setelah kami menikah, enam bulan yang lalu. Ia menginginkan suasana yang sedikit bergaya Jepang kemudian membuat tatami kecil dengan bantalan duduk, meja persegi yang lebar dan berkaki pendek. Pemandangan halaman belakang yang asri serasa menyapa kami di sebelah kanan ruangan yang dibuka.

Shota sudah duduk di bantalan tersebut. Pandangannya tertuju pada kebun belakang. Begitu mendengar aku masuk, pandangannya teralihkan. Rambut hitam Shota yang panjang tapi tidak gondrong itu terlihat basah. Ia wangi sekali. Ia selalu begitu.

“Maaf, ya, kedai sedang ramai,” aku membuka percakapan. Lalu, kuletakkan lauk-pauk yang aku hangatkan beberapa menit yang lalu dengan semangkuk sayur bayam kesukaannya.

“Kau tidak perlu seperti itu setiap hari,” ucap Shota tiba–tiba.

Aku tidak mengerti perkataannya.

“Kau tidak harus melayaniku setiap hari, Yu. Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Kau kan tinggal bersamaku di sini. Aku nggak bisa mengabaikanmu begitu saja,” jawabku apa adanya.

“Aku tidak mau merepotkan.”

“Tidak ada yang direpotkan. Aku biasa melakukan ini, kok. Bahkan, jauh sebelum kau datang, aku memang kebagian jadi seksi masak-memasak di acara kumpul–kumpul,” aku berusaha menghilangkan kekakuan dengan melucu. Jelas sekali aku kehilangan bakat humorku belakangan ini. Shota tidak tertawa sama sekali.

Sejak kejadian menyakitkan itu, entah kenapa, aku sering menarik diri dari teman–temanku. Dan kalau bisa, menjauhkan diri dari banyak orang yang mengenalku, tapi tidak benar–benar mengenalku. Mungkin kejadian menyakitkan itu bisa dengan mudah kulupakan, namun   sakit hati dan malu yang kurasakan tidak juga hilang. Hingga saat ini. Bahkan, ketika Shota duduk di sampingku dan mengucapkan janji pernikahan. Aku tetap tidak bisa melupakan rasa sakit ini.

Harusnya aku sudah menikmati keluarga yang bahagia, jika Akbar memang benar–benar ingin menikahiku. Harusnya aku sudah mendambakan seorang anak darinya, jika ia memang telah menjadi suamiku. Entah kenapa, aku begitu memercayai semua hal yang pernah ia katakan. Aku sangat mencintainya... dulu.

“Aku tidak suka melihatmu melamun!” suara Shota terdengar, bagai tanda bagiku untuk kembali ke dunia nyata.

“Aku tidak melamun,” tangkisku.

Kami berdua pun akhirnya diam dan menikmati makan malam kami penuh keheningan. Setelah selesai makan, Shota beranjak dari tatami dan berjalan ke luar ruangan. Aku membereskan piring–piring kotor dalam diam. Udara terasa sangat dingin bagiku, walau keadaan yang sesungguhnya sangatlah berbeda.

Namun, tiba-tiba ada kehangatan kurasakan menjalar di pergelangan tanganku. Ketika aku menoleh, Shota telah memegang tanganku. Ia menatapku, tapi aku tidak pernah merasakan tatapannya hadir di dalam hatiku. Aku sangat terkejut pada sikap Shota yang seperti itu. Aku pikir ia telah beranjak dari ruangan ini.

“Jangan pikirkan dia lagi...,” akhirnya ia berbicara, pelan.

Aku hanya bisa mengangguk. Diam-diam, ada ketenangan mengalir di dadaku.


Bersambung

Penulis : Dwi Retno Handayani
Pemenang II sayembara Mengarang ­- Cerber femina 2009

Cerita Terkait :

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 1)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 2)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 4)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 5)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 6)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 7)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 8)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 9)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 10)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :