Bookmark and Share


 
 



  Roti Buaya (Bagian 3)

 
 


Ibu sudah hampir lima tahun bekerja sebagai buruh cuci pakaian di rumah Ko Halim, orang kaya pemilik pabrik tahu di tepian jalan besar itu. Gaji Ibu memang tidak terlalu besar. Per minggunya, Ibu mendapat Rp50.000. Jumlah yang lumayan besar untuk membantu perekonomian keluarga kami. Ko Halim orangnya cukup dermawan, dia suka memberi bonus kalau sedang girang hati. Kadang-kadang istrinya pun memberi Ibu baju bekas yang layak pakai. Aku dan Dita malah dibelikan seragam sekolah. Tentu saja, Ibu senang karena uang untuk membeli baju bisa dialihkan untuk membeli keperluan lain yang lebih penting.

Aku menghela napas. Celengan Spiderman itu kutatap sekali lagi. Kugoyangkan pelan-pelan. Suara uang logam beradu dengan kaleng terdengar nyaring. Uang yang kukumpulkan sedikit demi sedikit, hasil keringatku menyemir sepatu di masjid besar itu, sebentar lagi berpindah tempat.

Baru sekali Ibu mengganti isi celenganku, itu pun kemudian dipinjam kembali. Sekarang, ketika jumlahnya diperkirakan cukup untuk membeli satu buah roti buaya, uang ini harus kurelakan untuk adikku. Sudah berapa buah roti buaya yang lepas dari genggaman tanganku? Aku tak dapat menyembunyikan rasa kecewa yang selama ini kusimpan dalam diam. Tapi, perasaan tersebut segera pupus, ketika menatap adikku yang terbaring lemah. Wajahnya memerah karena demam. Matanya yang kuyu, sedari tadi masih terpejam rapat. Biasanya, dari bibir mungilnya terlontar celoteh riang yang meruapkan keceriaan di rumah kami. Rumah yang hangat, meski angin dan bocoran air tak bosannya singgah di situ.

Kabar baik itu disampaikan Ibu ketika Abah baru saja pulang. Hasil pemeriksaan laboratorium Dita cukup bagus, bukan gejala tifus atau demam berdarah, tapi hanya demam biasa yang kalau dibiarkan bisa jadi lebih parah. Untung saja cepat-cepat dibawa ke puskesmas. 

Abah senang, yang penting Dita tidak terjangkit demam berdarah. Bila ini benar-benar terjadi, Abah tak tahu harus berbuat apa. Dokter pasti  menganjurkan Dita diopname, yang otomatis memerlukan biaya besar. Utang Abah di koperasi tempatnya bekerja masih menumpuk. Prosesnya akan menjadi lama dan berbelit kalau mau berutang lagi. Abah tak dapat menunggu terlalu lama karena Dita butuh pertolongan segera, ini berarti biaya rumah sakit harus secepatnya dibayar. Mungkin saja Ibu bisa meminjam uang pada Ko Halim, tapi apa tidak malu kalau terlalu sering berutang?

Untungnya semua itu tidak terjadi. Dita sembuh. Kelincahan dan celoteh adikku mewarnai hari-hari kami yang sempat hilang. Suasana rumah pun kembali seperti semula, hangat dan ceria. Meski keluarga kami serba pas-pasan, selalu saja ada hal-hal yang membuat kami bersyukur. Memang, Abah hanya seorang pegawai kecil yang baru saja diangkat jadi pegawai tetap. Tapi, Abah seorang pekerja keras dan giat agar kehidupan keluarga kami menjadi lebih baik.

Bila kebagian jaga malam, siangnya Abah nyambi jadi petugas parkir. Waktu yang seharusnya digunakan Abah untuk istirahat, dipergunakan untuk bekerja pula. Otomatis aku jarang bertemu ayahku. Kami jarang mengobrol, apalagi Abah termasuk agak pendiam. Tapi, aku tahu betul, betapa Abah menyayangi kami semua. Mata Abah sudah terlalu banyak bercerita padaku, sehingga aku tidak merasa kesulitan untuk menafsirkannya.

Sehari-harinya Abah bertugas sebagai penjaga pintu perlintasan kereta api. Ia seorang pegawai yang tekun, cermat, dan rajin. Aku bangga mempunyai ayah seperti Abah. Lewat kepolosan kanak-kanakku, terkadang aku berpikir, kalau sudah dewasa nanti ingin seperti ayahku.

Tapi Abah tak menyetujui keinginanku. “Tanggung jawab dan risikonya terlalu besar, Nak, dan tidak semua orang akan menghargai pekerjaan dan pengorbananmu. Abah memang bertanggung jawab mengatur agar lintasan kereta yang Abah jaga itu aman dan tertib, baik untuk kereta, orang, atau kendaraan pengguna jalan. Bila Abah lalai, nyawa orang banyak taruhannya. Tugas utama Abah berhubungan dengan keselamatan semua penumpang kereta api yang melintas dalam wilayah kerja Abah. Namun tidak semua orang mengerti. Masih saja ada orang yang mencoba menerobos palang pintu kereta. Mereka mengabaikan keselamatannya sendiri. Seharusnya mereka mengerti, Abah saja peduli pada keselamatan mereka, tapi mengapa mereka begitu?”

Mataku membesar. “Mana Dito tahu, Bah!” ujarku, polos. Abah tertawa, mengacak-acak rambutku dengan gemas.

“Abah tidak bertanya padamu. Abah hanya mempertanyakan perilaku orang-orang yang tidak sayang kepada dirinya sendiri. Kelak kau akan mengerti, betapa berharganya kehidupan ini!” ujar Abah, sambil tersenyum. “Abah hanya ingin Dito sekolah setinggi mungkin, agar mendapat pekerjaan yang lebih baik dari Abah.  Ini cita-cita Abah.”

“Abah mau tahu cita-cita Dito?”

“Ya…?!”

“Dito ingin disunat, lalu kita bikin kenduri…. Kita undang tetangga yang dekat-dekat rumah kita saja!”

Abah terdiam sesaat. “Itu bukan cita-cita, Nak, cuma keinginan biasa dan memang kewajiban kita untuk melaksanakannya!”

“Tapi, kapan, Bah?” kejarku, naïf.

Mata Abah berubah murung. Sebuah jawaban yang membuat aku berhenti mendesak ayahku.

Aku paham, mencoba untuk mengerti, namun sesuatu yang mendesak dalam pikiran kanak-kanakku membuat aku tak kuasa untuk meredamnya. Keinginan yang sudah lama menggumpal akhirnya terungkap juga. Ya, meski belum juga terwujud, sedikitnya aku sudah mengatakan semua itu kepada Abah. Abah tak berusaha memberi harapan, dia hanya mengusap-usap kepalaku. Beberapa saat kami terbungkam oleh pikiran kami masing-masing. Sampai kemudian aku beranjak, pergi tidur dan merangkai mimpi yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Bersambung

Penulis: Katherina
Pemenang III Ssayembara Mengarang Cerber femina 2009


Cerita Terkait :

» Roti Buaya (Bagian 1)

» Roti Buaya (Bagian 2)

» Roti Buaya (Bagian 4)

» Roti Buaya (Bagian 5)

» Roti Buaya (Bagian 6)

» Roti Buaya (Bagian 7)

» Roti Buaya (Bagian 8)

» Roti Buaya (Bagian 9)

» Roti Buaya (Bagian 10)

» Roti Buaya (Bagian 11)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :