
|

|


|
|
|

| |
Memilih Katering Sehat

|
|
| |
karena Kesibukan kita sehari-hari, memasak agaknya jadi pilihan terakhir bagi kita. Akhirnya, karena mencari yang praktis, kita memilih beli makanan jadi. Masalahnya, jajan setiap hari makin menguras kantong. Selain itu, kebersihan makanan pun tak terjamin.
Satu alternatif yang bisa dicoba adalah katering. Tapi, kalau mau sehat memilih katering sebaiknya jangan hanya mengandalkan rasa dan harga murah saja.
SEPERTI APA MENU SEIMBANG?
Tidak mudah memilih yang sehat dan (kalau bisa) enak. Apalagi jika pengelola katering tak terlalu mementingkan faktor kesehatan.
Emilia Achmadi, M.Sc., Health Coach SEHATI, punya solusinya untuk kita, konsumen katering. “Lihat dulu menu makanan yang ditawarkan selama seminggu, apa saja pilihannya,” tuturnya. Menurutnya, katering yang baik akan memberikan pilihan menu dengan komposisi seimbang.
Lalu, bagaimana cara mengetahui menu yang tepat dan sehat?
Ada tiga hal utama yang harus diperhatikan, yaitu:
1 Variasi serat bisa dilihat dari pilihan buah yang disediakan, apakah buah potong atau dalam bentuk jus. Buah potong jauh lebih baik daripada jus, yang sudah bercampur air, gula, atau susu kental manis. Warna buah-buahannya harus beragam sepanjang minggu. Pir, melon, mangga, dan anggur bisa menggantikan pilihan buah-buahan katering yang selama ini didominasi oleh pisang, jeruk, dan apel.
Untuk sayuran, Emilia menganjurkan memilih sayuran mentah (salad), atau yang diolah dengan cara ditumis. Kedua pilihan ini jauh lebih sehat ketimbang yang dimasak dengan santan atau dibuat sup.
“Proses yang minim masak dan pemanasan, akan memiliki nilai gizi lebih baik, sehingga lebih sehat,” papar Emilia. Selain itu, masakan berupa sup juga biasanya mengurangi jumlah sayuran di dalamnya, karena digantikan kaldu. Tapi, tak masalah kalau menu sup hanya disajikan satu kali dalam seminggu.
2 Sumber protein bisa didapat dari daging sapi, ikan, ayam, tahu, tempe, atau telur. Di samping
harus bervariasi, proses memasaknya juga harus diperhatikan.
Kalau katering itu menawarkan jenis lauk yang terlalu lama digoreng dan digoreng dengan banyak minyak, langsung coret saja dari daftar pilihan. Proses tersebut bisa menurunkan kualitas gizi bahan makanan. Karena itu, sebisa mungkin pengolahan sumber protein adalah dengan cara ditumis.
“Konsumen berhak menanyakan minyak goreng yang digunakan. Untuk menumis, saya menganjurkan minyak canola atau olive oil, yang mengandung lemak tak jenuh tunggal dan berkhasiat mencegah penyakit jantung koroner,” lanjut Emilia.
3 Pilihan jenis karbohidrat sebagai sumber energi ternyata juga harus bervariasi. Mengonsumsi nasi terus setiap hari, tidak terlalu dianjurkan. Kombinasi antara beras putih dan merah baik untuk menambah serat dan mengurangi gula. Ini bisa melancarkan pencernaan.
Kentang rebus yang belum dikupas kulitnya juga bisa jadi alternatif. Karena, kulit kentang mengandung vitamin C dan serat, yang berfungsi untuk mengontrol gula darah.
Hati-hati pada kombinasi lauk yang terlalu banyak mengandung karbohidrat. Menu makanan kita menjadi tidak ideal, ketika menerima nasi dengan lauk mi atau bihun goreng, atau lauk sambal goreng hati, yang isinya lebih banyak kentang daripada daging.
Perusahaan katering biasanya menyertakan sambal di dalam set menu, sebagai pelengkap dan penambah selera makan. Sejauh sambalnya terbuat dari cabai mentah yang banyak mengandung vitamin C dan kita tak punya gangguan lambung, sambal aman dikonsumsi. “Yang tidak dianjurkan adalah sambal botol, dalam kemasan, atau yang dibuat dengan cara digoreng karena akan menghilangkan kandungan vitaminnya,” ujar Emilia.
WADAH YANG AMAN
Mayoritas perusahaan katering menggunakan wadah plastik untuk mendistribusikan makan siang kepada pelanggan. Memang praktis, tapi tak semua wadah plastik aman. Kita harus teliti mengamati kualitas wadah plastik yang digunakan perusahaan katering.
Wadah plastik yang tak lolos standar kesehatan bisa melepaskan racun ke dalam makanan. Rahasianya ada pada kode angka di bawah wadah plastik. Ada kode tertentu yang tak boleh digunakan untuk makanan panas, yaitu nomor 3, 6, dan 7. Bahan dasar plastik nomor-nomor ini berbahaya dan akan bereaksi dengan makanan, jika terkena panas.
Kita juga harus waspada, jika perusahaan katering memberi kuah sup dalam kantong plastik transparan. Menurut Emilia, plastik itu berbahaya bagi kesehatan. Styrofoam termasuk wadah yang dilarang keras. Karena, bahan dasarnya, polystyrene, dapat mengeluarkan karsinogen (zat pemicu kanker), ketika bereaksi dengan panas.
Asam pun dapat bereaksi pada metal. Jadi, meski ada perusahaan katering yang memakai wadah berbahan dasar metal, jangan keburu senang. Pastikan bahan dasarnya stainless steel. Selain tidak bereaksi jika terkena makanan panas, rantang stainless steel bisa menjaga makanan tetap hangat.
Paling aman dan praktis, Anda menyiapkan sendiri wadah makanan pesanan. Milikilah beberapa buah rantang stainless steel berkualitas baik.
BERAPA KALI DIPANASKAN?
Mengingat banyaknya jumlah pesanan yang harus dilayani setiap hari oleh perusahaan katering, mungkin saja makan siang dan malam kita dimasak pagi hari, atau malah malam sebelumnya. Apalagi, untuk menu daging empal, yang perlu pemasakan lebih lama.
Jika makanan itu tidak habis dalam satu kali makan, tak masalah jika mau disimpan untuk makan berikutnya. “Tergantung cara menyimpan dan menghangatkannya kembali,” ujar Emilia. Sebaiknya makanan disimpan di lemari pendingin untuk mencegah kontaminasi dan pembusukan.
Tapi, Emilia tak menganjurkan hal ini dilakukan terlalu sering. Karena, makin sering makanan dipanaskan, makin banyak juga nutrisi yang hilang. “Jadi, lebih ideal bila langsung dimakan saja,” saran Emilia.
Kalau Anda terpaksa menunda memakannya, sebaiknya hangatkan menggunakan microwave, jika bahan bakunya daging. Atau jika sayuran, panaskan sebentar di atas kompor, tanpa menambahkan minyak goreng.
Penulis: Stephanie Mamonto
[Dari femina 30 / 2010]

|
|
|