Bookmark and Share


 
 

  OSCAR LAWALATA: JALAN TERJAL MENJADI DESAINER (BAGIAN 2)

 
 


ANAK LELAKI YANG LEMBUT NAMUN BERHATI TEGAR
Kenyataan-kenyataan getir diterimanya sejak kecil. Namun, ia tetap mampu bergembira dan berprestasi. Bakat menggambarnya menjadi awal nasib baiknya di kemudian hari.


PELANGGAN JUARA KELAS

Di mata Mario, Oscar memang memiliki kelebihan. “Dia bukan anak penuntut seperti saya,” lanjut Mario. Bahkan, suatu kali, Oscar mau merelakan jatah uang sepatunya untuk membeli sepatu bermerek terkenal bagi Mario. Oscar yang sejak kecil gemar memadu-padankan warna tas sekolah dan perlengkapan alat tulis dengan warna sama, cukup puas dengan tas bekas pemberian kerabat.

Kelebihan Oscar yang lain adalah jago menggambar, bahkan buku hariannya dipenuhi gambar dan kode khusus untuk menggambarkan orang yang diceritakannya. Oscar juga gemar menggambar topeng, karena bisa bebas mereka-reka ekspresi wajah topeng . “Entah kenapa, saya suka menggambar wajah-wajah kosong atau hampa,” kata Oscar, yang berdarah Jawa, Ambon, dan Belanda ini.

“Oscar dan Mario bagaikan bumi dan langit,” ucap Reggy, sambil menerawang. Oscar dan Mario memang berbeda, dilihat dari sifat maupun penampilan. Bersama berjalannya waktu, ‘kelebihan’ Oscar yang lain juga makin terlihat. Perbedaan itu kian tampak dari waktu ke waktu hingga sanak saudara pun mulai angkat bicara. Reggy merasa sedih dan terus berharap Oscar berubah.

Reggy kemudian meminta Oscar les karate, ide yang ditolak mentah-mentah oleh Oscar. Oscar juga sering menahan rasa sedih saat diminta ibunya membawakan barang-barang belanjaan yang berat. Oscar juga dituntut untuk bersikap lebih ‘pria’, sigap dan kuat, daripada sikapnya sehari-hari yang lemah lembut. Bukannya Oscar tak berusaha untuk membahagiakan ibunya, namun kenyataannya memang seperti itu. “Begitulah diri saya, dipaksakan seperti apa pun, tetap tak bisa,” kata Oscar, yang akhirnya tumbuh sebagai anak yang makin pendiam dan gemar berpikir.

Namun, Oscar tak mampu menolak ketika ibunya memint ia ikut ajang pemilihan model pria, seperti yang dilakukan Mario. “Meskipun setengah hati, saya berhasil lolos sebagai finalis. Setelah itu, saya harus difoto dengan berbagai pose dan berjalan di catwalk. Saya menjalaninya seperti akting saja,” kata Oscar, yang tak suka menjadi model dan akhirnya tidak meneruskan kegiatan ini.

Meskipun Reggy masih saja resah dengan ‘kelembutan’ anak sulungnya ini, Oscar memberi kebanggaan lain pada Reggy setiap kali pengambilan rapor tiba. “Dia selalu jadi juara kelas, sejak SD sampai SMA. Guru-gurunya juga selalu berterima kasih kepada saya, karena Oscar mampu mengoordinasi teman-temannya untuk mendekor panggung pentas seni,” kenang Reggy.

Oscar juga selalu terpilih sebagai ketua kelas. Bagaimana gaya Oscar memimpin teman-teman sekelasnya? “Saya bisa bersikap tegas saat diperlukan,” kata penggemar buku, yang tak punya cita-cita lain kecuali menekuni seni.

‘PERANG DINGIN’ IBU-ANAK
Saat Oscar duduk di bangku SMA di Don Bosco, kehidupan ekonomi keluarganya berangsur-angsur membaik. “Tetapi, ya, tetap pas-pasan. Misalnya, saya sudah mampu jajan mi ayam di sekolah. Tapi, kalau teman-teman bisa jajan dua kali di jam istirahat, saya cuma sekali saja,” kata Oscar.

Di masa-masa ini pula, ‘perang dingin’ Oscar dengan Reggy makin meruncing. Reggy sampai mengajaknya ke psikolog, namun Oscar menolaknya. “Psikolog mau bicara apa pun, keadaan saya tetap tidak akan mungkin berubah,” kata Oscar. Keadaan pun makin ‘panas’, sehingga Oscar sering merasa tertekan. Bahkan, sempat terlintas di benaknya untuk meninggalkan rumah.

Oscar juga sempat merasa, Reggy malu mengakui dirinya sebagai anak. Di sisi lain, Reggy pun berdiri di posisi sulit. Kakak-kakak Reggy mulai ikut resah melihat kelemahlembutan putra sulungnya itu, bahkan mereka meminta Reggy untuk memberikan suntik hormon pada Oscar. “Saya ingin bertindak adil dengan menanyakan langsung apakah Oscar setuju dengan cara itu,” kata Reggy.

Namun, ternyata reaksi Oscar sangat mengagetkan. “Dia tersinggung dan tampak terhina sekali. Saya sampai menyesal mengutarakan hal itu. Oscar memang sangat sensitif. Saya bicara keras sedikit saja, bisa membuatnya diam-diam menangis. Sejak saat itu, saya memilih diam,” kata Reggy. Tetap tidak mau menyerah, ia lantas mencari berbagai informasi tentang keadaan Oscar, baik kepada teman-teman dekatnya, psikolog, maupun dokter.

Menjelang lulus SMA, Oscar ‘bermimpi’ bersekolah seni di Amerika. Menyadari dana terbatas, Oscar memutuskan mempelajari seni di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sayangnya, ia gagal pada tes kedua.

Namun, kegagalan itu tak membuatnya patah arang. Oscar mencari sekolah ke sana kemari, sampai pilihannya jatuh pada Esmod, sekolah mode franchise dari Prancis. Reggy pun berjuang keras untuk bisa membayar uang sekolah dalam dolar Amerika. “Belum lagi alat-alat tulisnya, yang semuanya khusus dan mahal sekali. Karena tak punya uang, saya minta Oscar pinjam saja,” kata Reggy.

Oscar tak malu, meskipun harus meminjam. “Saya mengatakan apa adanya, saya belum mampu membeli. Kalau ditolak, saya pinjam teman yang lain,” lanjut Oscar, yang kerap datang kuliah jauh lebih pagi, untuk menunggu teman yang mau meminjamkan alat-alat tulis, lalu mengerjakan tugas-tugas di kampus Esmod.

Nasib baik rupanya belum memayungi Oscar. Krisis ekonomi (1997) juga mengimbas keluarganya. Reggy sungguh tak mampu lagi membayar biaya kuliah Oscar, seiring melambungnya nilai dolar. Dengan besar hati, Oscar menerima kenyataan itu. Ia lantas mengajukan beasiswa, namun ditolak. “Saya tidak kecewa, saya hanya menganggap diri saya kurang beruntung,” kata Oscar, yang telah mampu menyerap sebagian besar ilmu fashion dari Esmod.

Berbekal pendidikan fashion yang tak selesai, Oscar membangun mimpi lain: membuka butik. Ide itu disetujui Reggy. Garasi kecil di depan rumah mereka segera diisi dua mesin jahit. Dengan bantuan seorang tukang jahit, Oscar mulai mereka-reka berbagai sketsa, sambil menunggu datangnya pesanan baju dari kenalan Reggy. Klien pertama yang dibawa Reggy adalah penyanyi Titi DJ, yang sekaligus membawa beberapa lembar bahan untuk dijahitkan baju, dengan tarif antara Rp20.000 hingga Rp40.000 per baju.

Sementara itu, ibu dan anak ini tetap saling memendam perasaan ‘tidak enak’. ‘Perang dingin’ masih berlangsung di antara mereka, terkadang menurun, terkadang memanas. Di tengah keresahan hatinya, Oscar makin memantapkan hati menjadi desainer.


Bersambung


Serial Terkait :

» OSCAR LAWALATA: JALAN TERJAL MENJADI DESAINER (BAGIAN 1)

» OSCAR LAWALATA: JALAN TERJAL MENJADI DESAINER (BAGIAN 3)

» OSCAR LAWALATA: JALAN TERJAL MENJADI DESAINER (BAGIAN 4)

» OSCAR LAWALATA: JALAN TERJAL MENJADI DESAINER (BAGIAN 5)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :