Bookmark and Share


 
 

  OSCAR LAWALATA: JALAN TERJAL MENJADI DESAINER (BAGIAN 5)

 
 


MENANTI CINTA SEJATI

Namanya sebagai desainer makin berkibar. Meski sempat terjebak di dunia gemerlap kalangan fashionista ibu kota dan dijuluki ‘Ratu Pesta’, kehidupan pribadinya tetap saja sepi dari cinta.

Sepeninggal ibunya yang pindah ke Australia mengikuti suaminya, Oscar mengaku butuh lima tahun untuk merapikan bisnisnya. “Sistem perusahaan yang saya bangun masih lemah,” katanya, serius. Karena itu, sembari menciptakan rancangan-rancangan busana, ia juga merancang manajemen baru dan menyusun sistem sendiri untuk menguatkan bisnisnya. Meski mengaku tak terlalu suka mengurus bisnis, ia terus berusaha menutup celah-celah yang bisa membuatnya merugi.

BOS PENDIAM

Setelah sempat tenggelam dalam dunia gemerlap selama tiga tahun (hingga 2005), akhirnya Oscar kembali berkonsentrasi pada bisnisnya. “Meskipun menyenangkan, lama-kelamaan pesta-pesta itu membuat saya jenuh. Saya juga tak berhasil menemukan sahabat sejati di sana,” ungkap Oscar, yang segera mengejar ketinggalan, dengan mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan manajemen perusahaan, mulai dari urusan HRD, pajak, sampai perekrutan pegawai.

Saat mengelola perusahaannya, PT OSCAROSCAR, ia mengaku belajar banyak hal tentang bisnis fashion yang tak pernah dipelajarinya di sekolah. “Saya telah bertanya ke sana kemari, tetapi semuanya tak bisa diterapkan begitu saja dalam bisnis ini, karena kondisinya benar-benar berbeda,” kata Oscar, yang mengaku jatuh bangun saat membenahi manajemen dan sistem yang ingin diterap-kan di kantornya. Akhirnya, sistem dibuat berdasarkan pengalaman dan pengamatan terhadap karakter para karyawan.

“Misalnya, saya membuat sistem untuk stok barang, sehingga tak perlu tertipu lagi dengan permintaan barang yang terus-menerus. Saya juga meminta para karyawan membuat file yang rapi, sehingga bila mereka keluar, file tersebut bisa diteruskan oleh karyawan baru,” Oscar memberi contoh.

Masalah perekrutan pegawai memang menjadi salah satu kendala bisnisnya. “Sulit sekali mencari orang-orang yang mampu bekerja di bisnis fashion, karena memang nggak ada sekolahnya. Kalaupun akhirnya saya berhasil mendapatkan karyawan baru, sudah capek-capek melatih, eh, tak lama kemudian mereka keluar, karena merasa bidang fashion tidak memiliki masa depan yang menjanjikan,” kata Oscar.

Karena itu, kini ia lebih teliti saat mewawancarai calon karyawan. Ia harus jeli melihat kesungguhan mereka. Ia tak ingin para karyawannya hanya menjadikan pekerjaannya sebagai batu loncatan semata. Oscar juga melakukan pembagian kerja yang rapi agar tidak terjadi tumpang tindih. Setiap orang diberi tanggung jawab tertentu, namun diminta mengembangkan sendiri ketika berada di lapangan.

Beberapa kali femina berkunjung ke kantor Oscar, yang mempekerjakan sekitar 20 karyawan. Suasananya selalu tampak sibuk. Beberapa tamu sedang menunggu giliran bertemu Reggy. Sejak suaminya ditugaskan kembali ke Jakarta pada tahun 2007, Reggy memang kembali aktif membantu Oscar di bidang marketing.

Selain mengurus pesanan busana dari sebuah organisasi pelestari kain tradisional, Reggy juga ikut bernegosiasi dengan pihak yang ingin mengajak Oscar menampilkan karya-karyanya di Italia. Sebelumnya, Oscar telah membawa karyanya ke Taipei, Malaysia, Singapura, dan Jepang.

“Suasana kantor saya memang diusahakan hanya diisi dengan komunikasi tentang pekerjaan, mulai pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore. Kalau mau ngobrol di luar pekerjaan, harus menunggu jam kerja selesai,” kata Oscar, yang juga tak kalah disiplin dalam menerapkan jam kerja untuk dirinya sendiri. Jadwal kerjanya bahkan sudah disusun rapi untuk seminggu ke depan.

Namun, dari keterangan asisten dan pegawainya, Oscar dikenal sebagai bos yang tak banyak bicara dan jarang sekali marah. “Jika berada di situasi yang sulit, saya memang berusaha memosisikan diri sebagai karyawan. Karena saya sadar, kreativitas saya sebagai desainer perlu didukung tim produksi dan manajemen yang solid,” kata Oscar, yang sehari-hari senang tampil dengan rambut panjang yang digelung di tengkuk.

MALAS BERTEMU KLIEN
Selain masalah internal, Oscar juga dituntut pandai menerapkan strategi untuk memenangkan berbagai peluang bisnis, terutama bisnis pesanan seragam yang jumlahnya sangat besar.

“Untuk pesanan seragam, saya harus mau merendahkan hati untuk memenuhi berbagai pesan di balik sepotong pakaian. Kreativitas saya mesti bisa berjalan seiring bisnis. Kadang-kadang kreativitas saya memang harus berhenti karena harga yang terbatas. Tetapi, bagi saya, kreativitas juga tak jarang justru muncul akibat keterbatasan,” lanjut Oscar, yang mengagumi para desainer Jepang karena karya-karya mereka yang eksperimental, unik, tetapi tidak aneh-aneh.

Lain lagi strategi yang diterapkan Oscar saat menghadapi klien yang lebih personal. Bisa dibilang, para wanita datang pada Oscar dengan membawa mimpi masing-masing. “Saya berusaha mengarahkan ke desain yang lebih cocok dengan tubuh mereka. Tapi, terkadang ada saja yang memaksa minta dibuatkan model busana yang tak sesuai dengan tubuhnya. Kalau situasinya demikian, terpaksa saya harus mengalah,” kata Oscar, yang mengagumi karya-karya Baron, Obin, dan Kiata Kwanda ini.

Baru tiga tahun belakangan ini, Oscar mengaku mampu mengalahkan rasa malasnya untuk bertemu klien. “Tapi, Mama menegaskan bahwa saya harus mau menemui klien yang berkunjung ke butik saya, karena mereka pasti senang bisa bertemu saya secara langsung. Akhirnya, saya mencoba berpikir sebagai klien. Mungkin benar juga, saya pasti senang kalau bisa bertemu desainer favorit saya,” kata Oscar, yang tetap saja tak banyak bicara saat ‘menjual’ busananya.

Bahkan, tak jarang ia tetap bicara dengan jujur kepada kliennya. Kalau tidak pantas, ya, dibilang tidak pantas. Tidak harus bilang pantas, hanya agar bajunya dibeli. Di mata Oscar, desainer di Indo-nesia ada dua tipe. “Hanya 2 yang benar-benar desainer, 8 sisanya adalah desainer yang hanya pintar membaca tren, namun pandai ‘berjualan’,” kata Oscar.

“Selain itu, desainer sungguhan harus menjaga nilai orisinal. Terinspirasi boleh saja, tetapi dia harus bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang berbeda. Misalnya, tren rok balon. Saya hanya mengambil ide volume dan tekniknya saja untuk menghasilkan sesuatu yang baru,” ucap Oscar, yang tak pernah berhenti mempelajari seluk-beluk tekstil untuk menghasilkan karya-karya yang indah.

Ia juga sangat berhati-hati menjaga kualitas hasil karyanya. “Fashion di Indonesia kebanyakan seragam. Memang, seorang desainer harus memikirkan unsur seni sekaligus bisnis. Tapi, sebagai kreator, saya merasa wajib untuk tetap menunjukkan idealisme, bukan sekadar menjual baju seperti halnya mal. Setiap karya saya harus ada detail yang unik, tanpa mengubah bentuk dasar baju tersebut,” kata Oscar, yang merasa penting menjaga idealisme untuk mengisi hidupnya.

Belakangan, jadwalnya juga dipadati pesanan baju pengantin berikut baju-baju untuk orang tua dan para pengiringnya. Berapa, sih, harga baju-baju rancangan Oscar sekarang? Wah, ternyata sudah berlipat-lipat dibanding harga baju pesanan Titi DJ di awal karier Oscar dulu. Setidaknya, mulai dari Rp500.000 (blus ready to wear), Rp25 juta (gaun couture), dan lebih dari Rp50 juta (baju pengantin).

Butiknya di Jl. Laksana masih diteruskan masa kontraknya, meskipun kini Oscar sudah mampu memiliki butik tiga lantai di daerah Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan (kini masih dalam tahap penyelesaian), yang menurut rencana akan dipakai sekaligus sebagai rumah tinggal bersama adiknya, Mario.

Bagaimana Oscar memandang kesuksesannya yang dibangun dengan susah payah? “Sukses seorang desainer adalah jika karyanya bisa diterima dan dihargai masyarakat,” kata Oscar, yang mensyukuri keberhasilannya sebagai takdir yang baik, selain sebagai hasil kerja kerasnya bersama sang ibu.

TERBUKA UNTUK PRIA DAN WANITA
Kesuksesan karier memang telah mampu membahagiakan Oscar. Meskipun kehidupannya selalu disibukkan oleh pekerjaan yang bertumpuk, termasuk memenuhi berbagai janji dan meeting di sana-sini, ia mengaku bahagia.
Selepas jam kerja, Oscar lebih sering pulang ke rumah untuk beristirahat, dan sesekali di malam hari dilanjutkan dengan men-desain pesanan busana. “Bagi saya, berkarya harus mencicil, harus setiap hari. Tiga tahun ke depan, saya bermimpi sudah memiliki sistem yang baik, sehingga bisa punya waktu lebih banyak untuk kerja kreatif,” lanjut Oscar, yang harus ditemani musik saat sedang membuat sketsa busana.

Kalaupun ada waktu luang, ia lebih suka melewatkannya bersama Mario dan Reggy, atau bersama teman-teman dekatnya. Oscar me-ngaku belum memiliki ‘teman dekat’. Meski tak keberatan membicarakan cinta, Oscar telah memutuskan tidak akan menikah.

“Mungkin karena saya berasal dari keluarga broken home. Tapi, saya juga punya pemikiran lain yang mendasari keputusan itu. Bagi saya, menikah hanyalah membatasi kesempatan dan ruang gerak hidup. Di luar perkawinan masih banyak jenis kehidupan yang bisa diolah. Perkawinan hanya membuat dunia menjadi sempit. Namun, saya tetap menghargai orang-orang yang memilih untuk menikah,” kata Oscar, ringan.

Meski menolak pernikahan, Oscar tak akan menolak jika cinta datang menghampirinya, entah dari pria maupun wanita. “Se-muanya menjadi rahasia Tuhan,” kata pria yang menolak disebut gay, karena ia masih membuka diri untuk wanita, ini.

“Kalau seseorang menyebut dirinya gay karena ia hanya menyukai pria, maka selamanya dia akan begitu. Saya lebih suka membuka hati dan pikiran. Kalau suatu saat nanti saya bertemu dengan orang yang tepat, yang terpenting adalah saya merasa nyaman dengan dia. Dan, orang itu bisa saja pria ataupun wanita. Seks hanyalah naluri yang tak perlu dibesar-besarkan,” ucap Oscar.

Soal penampilannya yang dinilai makin feminin saja, ia juga menanggapinya dengan kalem, “Pada zaman dulu, pria juga bisa berpakaian seperti wanita.” Oscar berpendapat, setiap orang memiliki sisi maskulin dan feminin, hanya kadarnya yang berbeda.
“Kebetulan, pada diri saya, kadar femininnya lebih besar. Tetapi, saya bersyukur bisa berpikir secara pria, yang lebih logis, sigap, dan tegas. Di sisi lain, saya juga memiliki perasaan wanita yang lebih halus,” ungkap Oscar, terus terang.

Karena itu, ia mengaku tak gamang pada apa pun yang bakal terjadi di masa depan, karena masa-masa penting dalam hidupnya selama ini tak lepas dari campur tangan Tuhan. Namun, yang pasti, ia ingin mengisi sebagian hidupnya untuk orang lain.

“Terus berkarya dan membuat perusahaan saya survive adalah bagian dari cita-cita itu. Dengan berkarya, saya merasa ‘hidup’ dan otomatis menghasilkan uang. Dengan begitu, saya juga bisa memberi lapangan pekerjaan untuk banyak orang. Itulah cinta sejati saya. Bagi saya, cinta sejati tidak harus dikotak-kotakkan sebagai cinta suami-istri,” ujar penggemar Chloe, Fendi, dan Alexander McQueen ini, sambil tersenyum manis.

Mimpinya yang lain adalah mengabdikan hidupnya untuk seni. Ia ingin meluangkan waktu lebih banyak untuk melukis, hobinya sejak kecil yang belakangan ini makin sulit dilakoni karena terlalu sibuk bekerja. Kini ia juga mulai rajin mengumpulkan lukisan-lukisan lamanya.

Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia sudah membeli sebidang tanah yang luas di Bali. “Saya dulu pernah bercita-cita menjadi petani yang hidup dengan tenang. Tanah di Bali akan saya wujudkan menjadi tempat beristirahat sekaligus pusat workshop. Yah, pokoknya saya menjalani hidup untuk seni, sambil menikmati kehijauan alam,” kata Oscar, menerawangkan mimpinya, yang mungkin tak lama lagi bakal terwujud.

Tamat

Serial Terkait :

» OSCAR LAWALATA: JALAN TERJAL MENJADI DESAINER (BAGIAN 1)

» OSCAR LAWALATA: JALAN TERJAL MENJADI DESAINER (BAGIAN 2)

» OSCAR LAWALATA: JALAN TERJAL MENJADI DESAINER (BAGIAN 3)

» OSCAR LAWALATA: JALAN TERJAL MENJADI DESAINER (BAGIAN 4)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :