Bookmark and Share


 
 

  PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 2)

 
 


SI BADUNG INGIN JADI ANAK BAND

Ketika kecil, ia dikenal sebagai anak badung, pintar, dan tergila-gila pada sepak bola. Meski hanya bisa main gitar sekadarnya, ternyata dia diam-diam menyimpan obsesi jadi anak band.

Ketika naik ke kelas 4 SD, Ari terpaksa berpisah dari teman-teman main sepak bolanya. Ia harus mengikuti ayahnya yang pindah tugas ke Bojonegoro. Baru dua tahun di sana, ia pindah lagi ke Surabaya. Setelah lulus SD, ia melanjutkan ke SMP Negeri I2, yang merupakan salah satu SMP favorit di Surabaya. Bahkan, ia berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik. Selanjutnya, ia melanjutkan ke SMA Negeri 2, yang dikenal sebagai surga anak-anak band. Saat itu, ia memang mulai tergila-gila pada musik.

MEWARISI BAKAT IBU

Dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ari berarti adik. Ari memang adinda tersayang bagi keempat kakaknya, Prinanti Hanifa, Dwindata Femdika, Trioni Alfianus (Onny), dan Niken Kristiana. Bernardus adalah nama opa buyut Ari yang berdarah Toraja. Adapun Lasso adalah nama panggilan bagi anak laki-laki dari keluarga terpandang di daerah Toraja.

Srie, sang ibu, tidak pernah mengira kalau anak bungsunya itu bakal mengikuti jejaknya sebagai penyanyi. Wanita kelahiran Banyuwangi itu dulunya memang seorang penyanyi yang cukup terkenal di daerahnya. Ia terlahir dari keluarga musisi. Orang tua dan saudara-saudaranya juga memiliki suara merdu dan pintar main musik. Salah satu kerabat dekatnya adalah Emilia Contessa, penyanyi terkenal tahun 1970-an, yang juga berasal dari Banyuwangi.

Ari mulai tertarik pada musik saat duduk di kelas 2 SD. Namun, yang akrab di telinganya saat itu justru lagu-lagu dari kelompok Queen, Rolling Stones, The Police, Rod Stewart, John Denver, dan sebagainya, yang sering diputar kakak-kakaknya.

Berbeda dari kebanyakan anak-anak lain yang umumnya bercita-cita jadi dokter, insinyur, atau tentara, sejak awal ia justru sudah menanam cita-cita jadi penyanyi. Obsesinya adalah tampil menyanyi di lapangan sepak bola dan ditonton oleh puluhan bah–kan ratusan ribu orang.

Padahal, saat itu ia tak bisa memainkan alat musik apa pun. Belakangan, ia belajar main gitar sendiri. Hasilnya pun hanya sekadar bisa. Ia lebih banyak melatih vokalnya, biasanya sembari mengunci diri di kamar. Sambil mendengarkan lagu-lagu rock Barat kesayangannya dari kaset, ia lantas berteriak-teriak sendiri.

Cita-citanya jadi penyanyi mulai menemukan jalan saat ia duduk di SMA. Di sinilah ia mencurahkan hampir seluruh waktunya untuk menekuni musik, sembari menekuni hobinya yang lain, mendaki gunung. Namun, tanpa dia sadari, keasyikannya berada di luar rumah perlahan-lahan menggiringnya ke kehidupan yang membuat prihatin keluarganya. Selain jarang pulang dan hubungan dengan kedua orang tuanya makin renggang, Ari juga jadi malas belajar, sehingga prestasinya di sekolah merosot tajam. Nilai-nilainya sangat jeblok.

Kesadarannya baru terbangun seminggu menjelang ujian akhir. ”Selama tiga tahun di SMA, hanya seminggu itulah saya belajar beneran,” ujar Ari, tertawa. ”Waktu itu, target saya hanya satu, yaitu bisa masuk perguruan tinggi negeri untuk menyenangkan orang tua,” katanya. Hasilnya? Bukan saja ia berhasil lulus SMA dengan angka lumayan, tapi juga berhasil menembus Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, perguruan tinggi negeri kebanggaan Jawa Timur.

Di SMAN 2 ini pula Ari berkenalan dengan para penggila musik di sekolahnya, seperti Dhani Ahmad, Piyu (gitaris PADI), Wawan Juniarso (drummer Dewa pertama), Erwin Prasetya, dan Andra Junaidi. Saat itu, Dhani sudah cukup menonjol di kalangan pemusik muda Surabaya, dan sudah mendirikan ‘Dewa’. Tapi, anehnya, Dhani tak tertarik mengajak Ari yang bersuara tinggi nge-rock itu untuk bergabung dalam band-nya. Kenapa?

”Jenis musik kesukaan kami berbeda,” papar Dhani, lugas. ”Ari lebih mengarah pada pop rock dan menyukai Bon Jovi, sedangkan band favoritku Queen yang classic rock. Tapi, kami sama-sama suka Chicago. Meski begitu, kami tetap berteman, kok, dan sering nongkrong bareng. Teman-teman Ari juga teman-teman aku.”

Ari pertama kali membentuk band dengan Piyu dan Wawan. Mereka membentuk Outsider Band. Ia kemudian direkrut oleh Los Angeles Band, cikal bakal Boomerang, sebuah band beraliran rock yang lumayan beken di kalangan anak muda. Sayang, band itu akhirnya layu sebelum berkembang.

BERGABUNG DENGAN DEWA 19
Baru di tahun 1990, saat sama-sama duduk di kelas 3 SMA, Dhani Ahmad mengajaknya bergabung. Ini di luar dugaan Ari, karena selama ini selera musik mereka berdua kurang sejalan. Rupanya, ada satu momentum yang akhirnya membuat Dhani ‘jatuh hati’ pada Ari. Dhani mengaku sangat terkesan saat Ari menyanyikan lagu Chicago, Hard to Say I’m Sorry. Saat itu Dhani juga sedang berencana mengubah format band yang dipimpinnya saat itu, Down Beat Band, dan menggantikan penyanyinya yang wanita dengan penyanyi laki-laki. Ari pun direkrut sebagai vokalis baru Down Beat Band .

Setelah itu, Dhani bersama Erwin, Wawan, Andra, dan Ari sepakat untuk menghidupkan kembali band Dewa yang pernah mereka dirikan saat masih sama-sama duduk di SMP (1987). Nama Dewa diambil dari huruf depan para personelnya. Karena nama depan Ari juga diawali huruf ‘A’, mereka tak perlu mengubah nama band. Selanjutnya, mereka sepakat menambahkan ‘19’, karena di tahun 1991 itu, saat menyatu dalam Dewa, umur kelimanya sama-sama 19 tahun. Maka, lahirlah kelompok band Dewa 19.

Saat setahun kemudian, Dewa 19 meluncurkan album perdananya, industri musik Indonesia sedang didominasi kelompok Slank, Java Jive, Gigi, KLA Project, juga Kahitna. Di tengah band-band besar yang merajai pasar, album pertama Dewa 19 yang berjudul Kangen (Ku Kan Datang) ternyata berhasil terjual 300.000 keping, bahkan berhasil meraih BASF Award 1993 sebagai album terlaris.

Kunci sukses album pertama Dewa 19 itu tentu tidak lepas dari suara merdu Ari. ”Ari memiliki suara yang sangat merdu dan khas,” puji Dhani Ahmad. Kesuksesan ini memuluskan jalan arek-arek Suroboyo ini untuk melangkah ke album-album selanjutnya. Tahun 1992 mereka kembali meluncurkan album kedua, Format Masa Depan. Sama dengan yang pertama, album ini juga tak kalah meledak, dalam waktu relatif singkat terjual 500.000 keping.

Sebagai band yang masih bau kencur, keberhasilan Dewa 19 memang tergolong luar biasa. Selanjutnya adalah sebuah cerita sukses. Mereka sibuk manggung di berbagai kota di seluruh penjuru tanah air. Dan, nama Ari Lasso pun ikut melambung seiring dengan melejitnya nama Dewa 19. Ia kini sudah menjadi selebriti.


Bersambung

Serial Terkait :

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 1)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 3)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 4)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 5)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 6)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :