Bookmark and Share


 
 

  PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 3)

 
 


MASA-MASA TERGELAP DALAM CENGKERAMAN NARKOBA

Menjadi terkenal tiba-tiba membuat hidupnya limbung. Ia makin tenggelam dalam cengkeraman narkoba yang sudah menjeratnya sejak di SMA. Dalam keputusasaan, ia bahkan sempat mencoba bunuh diri.

Tanggal 22 Desember 2000. Seorang pria muda kurus kering berwajah sayu dan berambut gondrong semrawut, duduk bersimbah duka di samping tempat tidur sebuah rumah di Kompleks Perumahan Delta Indah Sari, Surabaya. Sambil terus berdoa, Ari Lasso, pria berpakaian kumal dan baru saja turun dari kereta api dari Jakarta itu, terus memegangi tangan ibundanya yang sudah sembilan hari mengalami koma.

Wanita tua yang tengah meregang nyawa itu terbaring lunglai tanpa daya. Meski tak dapat bergerak dan bicara sedikit pun, sesekali kedua sudut matanya basah oleh air mata. Menyaksikan ibunya terbaring tak berdaya di detik-detik terakhir hidupnya, ditambah luka hati yang begitu dalam memikirkan nasib anak bungsunya, tangis Ari pun pecah. Tersedu-sedu, tersengal-sengal.

Dengan suara terbata-bata, ia pun mengucapkan janji di telinga ibunya. ”Ma…, Ari janji pada Mama bahwa Ari akan sembuh. Mama tidak usah memikirkan Ari lagi. Papa dan semua anak-anak Mama sudah ikhlas kalau Mama ingin berangkat sekarang....”

Bagi Ari, detik-detik penantian kepergian wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu adalah detik-detik penentuan ’kelahiran’ atau justru ’kematiannya’. Ya, itulah detik-detik kalkulasi sikapnya, apakah akan hidup terus dan menjadi penyanyi seperti yang diimpikannya sejak bocah, atau mati tanpa arti dengan jarum-jarum menancap ke sekujur tubuhnya.

NARKOBA MENGUBAH SEGALANYA
Suksesnya album-album Dewa 19 makin mendekatkan hubungan Ari Lasso dan Ahmad Dhani. Menurut Dhani, banyak faktor yang membuat persahabatannya dengan Ari bertahan hingga saat ini. “Dari segi sifat, Ari dan aku sangat cocok, sehingga pertemanan kami sangat awet,” papar Dhani, di studionya yang menyatu dengan rumahnya di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. “Sifat Ari tidak dominan, sementara aku sangat dominan. Selain itu, aku dan dia sama-sama sangat religius dan sama-sama hobi baca buku, sehingga pemikiran kami selalu nyambung,” tambahnya.

Meski tak terlalu rajin ke gereja (karena sangat jauh dari rumahnya), Ari dibesarkan di tengah lingkungan keluarga Kristiani yang cukup religius. Tapi, sejak mulai masuk SMA, ketaatannya pada agama mulai lumer. Hal itu juga tak luput dari pengamatan sang ayah, Bernard, yang mengaku sangat prihatin melihat perkembangan putra bungsunya itu. Pada hari Natal yang seharusnya merupakan saat berkumpul terindah bersama semua anggota keluarga, Ari justru kabur ke gunung. Ada saja alasannya untuk pergi dari rumah.

Ari tidak menyangkal hal itu. Ia mengakui, sejak masuk SMA, kenakalannya memang makin menjadi-jadi. Selain menjadi anak yang sulit diatur dan suka berbohong, ia juga sering tidak pulang. Kalau tidak naik gunung, ia berlatih musik selama berhari-hari di rumah teman-temannya. ”Tapi, minta izinnya, sih, mau belajar di rumah teman, he...he...he...,” ujarnya, tergelak

Seperti anak muda pada umumnya, rasa ingin tahunya dalam berbagai hal sangat tinggi. ”Padahal, untuk mengetahui tentang sesuatu, kita ’kan harus mencoba lebih dulu,” ujar Ari, terkekeh. ”Untuk mengerti tentang pengaruh ganja, misalnya, saya kan harus nyobain dulu. Dari coba-coba itulah akhirnya saya jadi kecanduan.”

Ari juga diam-diam mempraktikkan berbagai percobaan tentang ilmu ‘permabukan’. Ia tidak hanya mencampur bir dengan soft drink, tapi juga dengan berbagai jenis minuman keras lain. Ia bahkan mulai mengenal berbagai jenis obat terlarang. Ia mengakui, sejak masuk SMA kehidupannya mulai liar. Hampir setiap malam Minggu dia mabuk bersama teman-teman se-geng-nya.

Namun, sejauh itu Ari merasa masih bisa mengendalikan diri dan emosinya. Setidaknya, ia yakin tidak bakal kecanduan. Keyakinan diri yang kelewat kuat itulah yang akhirnya membuahkan malapetaka berkepanjangan. Karena merasa sudah terbiasa mabuk, Ari mengiyakan saja saat ia ditawari mencicipi putaw oleh salah seorang personel band Slank, yang menyebutnya sebagai ‘barang baru’ yang luar biasa mengasyikkan.

Ternyata dia salah besar. Tanpa benar-benar disadari, tahu-tahu dia sudah tenggelam begitu jauh. ”Saya itu aslinya anak kuper,” Ari berterus terang. ”Saya tak punya banyak teman sehingga saya lebih suka menyendiri. Putaw membuat saya bisa bersembunyi dari publik.”

Delapan bulan kemudian, barulah dia sadar bahwa dirinya kecanduan berat. Tepatnya, pada Mei 1994. Waktu itu ia sedang pulang ke Surabaya. Karena tak mengonsumsi putaw seharian, mendadak ia sulit sekali tidur. Padahal, saat itu untuk mendapatkan putaw di Surabaya masih sangat sulit. Karena sudah tak tahan lagi, esok paginya ia langsung kembali ke Jakarta, agar bisa secepatnya mendapatkan putaw.

Di saat yang sama, Dewa 19 sedang mempersiapkan album ketiga mereka, Terbaik Terbaik. Ari mengenang, saat berada di studio rekaman, sekujur tubuhnya tiba-tiba kedinginan, perutnya mulas, tenggorokan gatal, dan ingin muntah-muntah. Belakangan ia baru tahu bahwa begitulah keadaan seseorang yang sedang sakaw (putus zat).

Namun, ketika seorang temannya menawari putaw, Ari masih sempat menolaknya. ”Masa mau rekaman pakai gituan!” katanya, polos. Ia lantas minum obat-obatan biasa, sekadar untuk meringankan rasa sakit. Tapi, meski telah minum beberapa tablet, tidak ada perubahan sama sekali. “Akhirnya, saya terima juga tawaran putaw itu. Anehnya, tidak lama kemudian saya langsung sembuh. Dari situlah saya menyadari bahwa saya sudah kecanduan!”

DIPECAT DARI DEWA 19
Srie, ibunda Ari, akhirnya harus menyerah setelah hampir dua tahun berjuang melawan gerogotan kanker payudara. Srie akhirnya tiba di pengujung kehidupan duniawinya. Di sisinya, sang suami terduduk lunglai tanpa daya.

Sudah terbayang di benak kakek 10 cucu ini, bagaimana berat dan peliknya kehidupan yang harus ia hadapi ke depan. Namun, yang paling memberatkan hatinya adalah kondisi anak bungsunya. “Sejak diberi tahu bahwa Ari menjadi pecandu putaw, saya merasa dunia kiamat!” kenang Bernard dengan mata menerawang.

Setelah pensiun sebagai pejabat Perhutani di Madiun, Bernard dan istrinya pindah ke Pekanbaru, Riau, selama dua tahun. Ia diminta memimpin salah satu perusahaan HPH di sana. Hari masih pagi ketika Onny --anak sulungnya yang menetap di Yogya-- tiba-tiba menelepon sang ayah di kantornya di Pekanbaru, sekitar akhir 1995. Dengan suara bergetar dan tersendat-sendat, Onny menyampaikan berita itu, “Pa, Ari kena narkoba....”

Bagai dipukul godam, pandangan Bernard mendadak gelap dan tubuhnya sempoyongan. Sebagai direktur utama, jelas ia tidak ingin musibah yang menimpa keluarganya itu diketahui anak buahnya dan mengganggu tugas-tugasnya di kantor. Akhirnya ia memutuskan keluar kantor dan pergi ke gereja. Dalam perjalanan, sambil menyetir mobil, ia menangis tersedu-sedu.

Semula ia ingin menumpahkan tangisnya di gereja yang tidak jauh dari kantornya. Tapi, niat itu ia urungkan, karena khawatir akan mengundang pertanyaan orang. Akhirnya, ia hanya menjalankan mobilnya tanpa tujuan, dan akhirnya berhenti di pinggir sebuah lapangan. Di situlah ia mencoba berserah diri dan memohon pertolongan-Nya. Tak lama kemudian, ia dan istrinya memutuskan kembali ke Surabaya untuk mendampingi anak bungsu mereka.


Bersambung

Serial Terkait :

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 1)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 2)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 4)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 5)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 6)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :