
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|

| |
Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 1)

|
|
| |
10 TAHUN MENYIAPKAN ‘PUTRI MAHKOTA’
Meski memiliki lima anak, ia tak mau sembarang menyerahkan tampuk pimpinan. Ia melakukan seleksi yang sangat ketat.
Suasana sibuk masih terasa kental ketika sore itu femina memasuki ruang kerja Putri Kuswisnu Wardani, M.B.A. yang cukup luas. Berbagai berkas dan surat-surat masih dibiarkan menumpuk tak beraturan. ”Maaf, tapi saya tidak bisa lama-lama, ya. Sebentar lagi saya harus segera memimpin rapat,” tutur Vice President Director PT Mustika Ratu, Tbk. itu, agak tergesa.
Nama Putri mungkin belum seberkibar ibundanya, Dr. Bendara Raden Ayu (B.R.A.) Hj. Mooryati Soedibyo. Meski tampuk kepemimpinan perusahaan hampir sepenuhnya beralih ke tangannya sejak 2002, bayang-bayang nama besar Mooryati masih sulit dipisahkan dari Mustika Ratu. Maklum, selain sebagai perintis Mustika Ratu, Mooryati juga dikenal sebagai Wakil Ketua MPR RI dan tokoh masyarakat. Hebatnya lagi, meski usianya sudah ‘temaram’, cadangan energinya seolah tak pernah habis. Ia selalu terlihat gesit, cak-cek, sekaligus galak menjalani berbagai kegiatan dari pagi hingga larut malam.
Femina menyaksikan sendiri keperkasaan ibu lima anak dan nenek 11 cucu itu. Senja hampir surut ketika wanita berusia 81 tahun itu duduk di kursi kerjanya di Ruang Penthouse, di lantai teratas dari 12 lantai Gedung Mustika Ratu di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Ia mempelajari satu demi satu surat atau laporan yang menumpuk di mejanya, menuliskan catatan-catatan atau langsung menandatanganinya.
Padahal, esok paginya ia sudah harus siap di Gedung MPR untuk menerima kunjungan Wakil Ketua Komite Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China (CPPCC), H. E. Mr. Luo Haocai. Pukul 11, ia dijadwalkan menerima wawancara dengan wartawan sebuah tabloid, dan dua jam kemudian mengikuti Rapat Gabungan Pimpinan MPR RI. Setelah mendengarkan presentasi desain interior ruang delegasi pada pukul 14.00 di Gedung DPR, ia langsung menuju bandara untuk terbang ke Medan. Luar biasa!
Walaupun lebih banyak berkutat di kantor dan di berbagai organisasi yang diikutinya, Putri juga tidak kalah sibuk. Nasib sekitar 3.000 karyawan Mustika Ratu yang beraset triliunan rupiah itu, kini berada di tangannya.
PROSES SUKSESI YANG ALOT
Putri hanya tersenyum saat femina menanyakan, apakah ia merasa terbebani dengan bayang-bayang besar ibundanya. “Di satu sisi, saya tahu benar betapa ibu saya selama ini sangat berharap anak-anaknya mampu menjadi penerusnya dalam memimpin Mustika Ratu. Tapi, di sisi lain, saya memahami bahwa sebagai seorang pengusaha yang merangkak dari bawah, Ibu tak ingin hasil kerja kerasnya selama ini sirna begitu saja di tangan penerusnya,” ujar Putri, lugas.
Bagi sang ibu, suksesi tidak sekadar perubahan kepemimpinan, khususnya sebagai CEO (chief executive officer), melainkan juga suatu regenerasi kepemimpinan yang dapat menjamin keberlanjutan perusahaan. Karena itu, Mooryati mempersiapkan para penerusnya dengan matang. Selain menyekolahkan kelima anaknya setinggi mungkin, ia juga mewajibkan mereka untuk bekerja di Mustika Ratu melalui tahapan-tahapan karier layaknya karyawan biasa. Tidak langsung melejit ke posisi tertentu seperti kebanyakan para ‘anak bos’.
Dengan begitu, ia berharap anak-anaknya yang kelak menjadi penggantinya, bisa menjadi pemimpin yang mumpuni. Yaitu, pemimpin yang matang dan penuh pengalaman, serta mampu memimpin serta mengembangkan perusahaan untuk menjamin kelangsungan kehidupan anak-cucu, ribuan karyawan, dan ribuan relasi perusahaan.
Tapi, semua keinginan Mooryati itu tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Putri ikut merasakan, saat mempersiapkan seorang putra/putri mahkota, ibunya sempat dag-dig-dug. Maklum, tiga anaknya yang dikader untuk menggantikannya, ternyata tak mampu bertahan.
Sebelum Putri bergabung di Mustika Ratu, dua adiknya --Dewi Nurhandayani dan Haryo Tejo Baskoro-- sudah lebih dulu menjadi karyawan di perusahaan itu. Tapi, keduanya menyerah di tengah jalan. Setelah tiga-empat tahun bergabung, Dewi akhirnya memilih jadi ibu rumah tangga saja. Begitu juga Haryo, yang akhirnya hanya memilih jadi anggota komisaris.
Bahkan, Ir. Djoko Ramiadji, M.Sc., kakak sulung Putri, juga memilih mundur di tengah jalan. “Ia hanya bertahan setahun,” tutur Putri. ”Sebagai insinyur, ia merasa bekerja di sini kurang pas untuk dirinya, dan memilih membuka usaha sendiri sesuai minat dan latar belakang pendidikannya.” Yang terjadi selanjutnya adalah seleksi alam. “Bagi keluarga atau siapa pun yang bisa bertahan bekerja dalam manajemen dengan sistem penggodokan dan recruitment ala Mustika Ratu, ya, dialah yang akhirnya bisa tampil sebagai pemimpin,” ujar Putri, menambahkan.
Putri bisa memahami keputusan kakak dan kedua adiknya. ”Idealnya kita bekerja harus didasari kecintaan. Kalau ternyata mereka tidak menyukai pekerjaan ini, biarpun itu perusahaan orang tua sendiri, mau apa lagi? Itu sebuah pilihan bebas, ‘kan? Begitu juga saya. Kalau saya tidak merasa nyaman di sini, mohon maaf, saya pun akan pamit dari sini. Tapi, kalau saya senang, tanpa disuruh pun, saya akan bekerja total di tempat ini.”
Sulitnya proses suksesi dalam sebuah perusahaan keluarga ini, akhirnya dipaparkan Mooryati dalam disertasinya yang diberi judul Kajian Terhadap Suksesi Kepemimpinan Puncak (CEO) Perusahaan Keluarga di Indonesia (Menurut Persepektif Penerus). Dalam karya ilmiah yang mengantarnya meraih gelar doktor pada usia 80 tahun ini, Mooryati menuliskan tentang sulitnya perusahaan keluarga --di Indonesia maupun di luar negeri-- untuk bisa bertahan hingga ke generasi kedua dan selanjutnya. Salah satu pembimbing disertasinya adalah pakar marketing, Dr. Rhenald Kasali.
Saat Mooryati mempertahankan disertasinya di hadapan para guru besar Universitas Indonesia, ia memang sudah berhasil melampaui ‘masa kritis’ proses suksesinya. Setidaknya, Putri sudah berhasil membuktikan bahwa ia ternyata mampu bertahan bekerja di perusahaan milik keluarganya. Kekhawatiran akan tiadanya penerus dari darah daging sendiri, kini sudah sirna. Ia sangat bersyukur telah berhasil mencetak seorang putri mahkota, setelah beberapa kali gagal.
Menurut Putri, alih kepemimpinan di Mustika Ratu berjalan dan mengalir secara wajar, sesuai aturan manajemen dan garis kebijakan pimpinan. Ia sendiri bergabung di Mustika Ratu setelah merampungkan kuliah S-1 (under graduate)-nya di Strayer College, American University, jurusan business administration, pada 1985, dengan menempati posisi marketing trainee. ”Saya memulai karier dari bawah, dan saya tidak pernah merasa dipersiapkan secara khusus oleh Ibu untuk menggantikan beliau,” ungkapnya.
Sambil tersenyum geli, Putri mengenang kembali pengalamannya saat ia masih menjadi staf junior di Mustika Ratu. Meski sering pergi bareng ibunya ke kantor, ia sama sekali tidak pernah diajak berbicara tentang masalah perusahaan. Mooryati merasa, belum saatnya Putri diajak berbicara tentang perusahaan, karena pengalaman dan pemikirannya tentang dunia bisnis masih belum matang.
Di saat lain, ketika Putri dengan sebal melaporkan bahwa idenya ditolak oleh manajernya, Mooryati hanya menanggapi dengan sikap dingin, dan sama sekali tidak mau menanggapi. ”Ibu lebih mendengarkan pendapat manajer senior saya daripada penjelasan saya. Di mata Ibu, meski saya dinilai cerdas karena baru lulus sekolah, saya tetap saja dianggap belum punya pengalaman lapangan. Dengan kata lain, usulan saya secara mutlak ditolak!”
Saat itu, Putri mengusulkan kepada pimpinannya agar Mustika Ratu memproduksi kosmetik tradisional bagi remaja putri, yang diberinya nama Puteri. Saat itu, hampir semua manajer di Mustika Ratu menentang usulan itu. Kata mereka, ”Tidak bisa, Ibu Putri, karena tidak banyak remaja yang punya duit untuk membeli kosmetik sendiri.”
Dengan berat hati, Putri menerima keputusan itu. Tapi, hatinya tetap bersikukuh bahwa idenya itu cukup valid dan akan sangat menguntungkan bagi perusahaan. Ide itu akhirnya baru bisa terwujud pada 1992, saat ia sudah duduk sebagai salah seorang manajer di Mustika Ratu.
”Inilah keputusan terbesar yang pernah saya ambil,” Putri bercerita penuh semangat. ”Di sini saya harus berani mempertanggungjawabkan argumentasi saya, karena hingga saat itu pun hampir semua senior saya masih menolak usulan itu. Saya hanya didukung oleh mentor saya, Pak Sukirno (sekarang sudah meninggal), yang saat itu menjabat sebagai general manager keuangan kami.”
Sebelum akhirnya Puteri resmi diluncurkan, selama satu setengah tahun produk itu dicoba dua kali dipasarkan. Hasilnya? “Sungguh di luar perkiraan direksi, bahkan di luar perhitungan saya sendiri. Produk ini ternyata sangat berhasil dan sekarang justru menjadi brand terbesar di Mustika Ratu!” kata putri yang pada tahun 1995 baru diangkat ke jajaran direksi.
Bersambung
Serial Terkait :

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 2)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 3)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 4)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 5)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 6)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|