Bookmark and Share


 
 

  Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 2)

 
 


10 TAHUN MENYIAPKAN ‘PUTRI MAHKOTA’

Meski memiliki lima anak, ia tak mau sembarang menyerahkan tampuk pimpinan. Ia melakukan seleksi yang sangat ketat.

GEDE BEJAMU

Sebenarnya Mooryati tidak pernah bermimpi menjadi pengusaha, apalagi mencita-citakannya. Selain sama sekali tidak pernah mengenal seluk-beluk dunia usaha, bagi seorang putri keraton, berbisnis tergolong tabu. ”Kalau ada wanita keraton yang berdagang, pasti didukani (dimarahi). Wong wedhok, kok, jadi saudagar!” kenang Mooryati samil tersenyum.

Nyatanya, setelah dewasa dan menikah, ia justru terjun ke dunia bisnis, bahkan menjadi wanita pengusaha yang sukses dan disegani. Namun, sebagai ibu, ia juga tidak keteteran.

Kelima putra-putrinya: Ir. Djoko Ramiadji, M.Sc., Putri Kuswisnu Wardani, M.B.A., Dewi Nur Handayani, B.B.A., Haryo Tejo Baskoro, M.B.A., dan Dra. Yuli Astuti, berhasil jadi sarjana. Bahkan, empat di antaranya sudah menyelesaikan program S-2. Sebuah lompatan yang terhitung besar dan nekat bagi seorang Mooryati. Sebagai putri berdarah biru, ia melewatkan masa kecilnya di Keraton Kasunanan Surakarta, karena ia tinggal bersama neneknya, salah satu istri Paku Buwono X, raja Surakarta pada waktu itu.

Mooryati yang dipanggil ‘Tati’ oleh kakeknya, merasa sangat tersanjung ketika suatu hari sang kakek menegurnya, ”Tati… kowe, kok, ayu temen, Nduk… Mbesuk bakal gede bejamu, Nduk…! Nek pengin gede bejamu, kudu okeh nglakoni! (Tati, kamu itu cantik sekali... Suatu hari nanti hidupmu akan sangat beruntung, Nduk…. Kalau ingin hidup beruntung, kamu harus banyak tirakat)!” tutur Mooryati, menirukan ucapan kakeknya.

Di matanya, selain berwibawa, kakeknya juga bijaksana, disayangi rakyat, dan dikenal sebagai ‘Raja Pembangunan’. Hingga saat ini banyak hasil pembangunannya yang masih berdiri kokoh di wilayah Solo. Saking kagum pada sang kakek, ”Saya suka memakan lorotan (sisa makanan) Eyang. Eyang dulu paling suka makan sate pentul. Bentuknya sate, tapi dagingnya dicincang dan dibumbui bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan garam, lalu dicelup ke dalam santan, dibungkus pelepah pisang (debok), baru dipanggang. Wah, rasanya enak dan dagingnya empuk sekali!”

Mooryati tak menyangka kalau apa yang diramalkan kakeknya itu bakal benar-benar terwujud. Saat memulai usaha jamu beras kencur pada 1973 di garasi mobil rumahnya, di Jalan Sawo No.31, Menteng, di jantung kota Jakarta, niat Mooryati hanyalah ingin membantu suaminya, K.R.M.H. Soedibjo Purbo Hadiningrat, M.Sc. (me­ninggal 1998).

Maklum, tak lama lagi suaminya –seorang pegawai negeri di Departemen Perindustrian-- akan pensiun, dan anak-anaknya belum ada yang selesai kuliah. Dibantu dua orang karyawan dan dengan menggunakan peralatan ala kadarnya, ia manfaatkan modal Rp2.500 untuk membeli sekarung kencur, kunyit, dan kayu manis. ”Saat itu, uang segitu nilainya sama dengan sepiring nasi goreng untuk sarapan di hotel mewah Jakarta,” ujarnya, tertawa renyah.

Bahan-bahan itu ia gunakan untuk membuat lebih dari 100 botol ramuan beras kencur, dan setiap botolnya dijual seharga seratus rupiah. Tahap kedua, nilai modalnya sudah meningkat jadi Rp10.000. Seperti perhitungan deret ukur, jumlah modal usahanya terus berlipat-lipat. Semua uang itu langsung ia belanjakan kembali untuk membeli bahan-bahan baku. Begitu seterusnya, hingga produksi jamunya pun terus meningkat.

”Hampir semuanya saya tangani sendiri,” paparnya. ”Dengan naik bus atau kereta api, saya mencari bahan baku sendiri ke luar kota. Saya memimpin produksi sendiri. Saya melihat dan meneliti semua bahan yang akan diramu. Bahkan, kalau perlu saya ikut menumbuk sendiri. Saya sendiri pula yang menangani penjualan, door to door, lewat arisan, dan sebagainya.”

Jamu dan kosmetik tradisionalnya ternyata laku keras dalam waktu relatif cepat. Karena penjualannya lancar, tanpa ia sadari, modal yang ia miliki berkembang sangat cepat. Jumlah peminat jamunya makin banyak, sehingga ia pun perlu menambah jumlah produksinya. Tapi, dengan begitu, ia juga harus menambah jumlah tenaga kerja. Dari awalnya hanya dua orang, ia merekrut delapan orang lagi, lalu menjadi 25 orang, dan di tahun 1978, menjadi 50 orang.

Bersambung


Serial Terkait :

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 1)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 3)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 4)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 5)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 6)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :