Bookmark and Share


 
 

  Andi Mallarangeng,
penerus gen politik keluarga (Bagian 1)

 
 


ANTO KECIL INGIN JADI PRIA MACHO

Meski tak suka berkelahi, ia tak mengelak bila ditantang berkelahi. Soalnya, bukan pria Bugis namanya kalau tak berani berantem.

Di suatu hari Jumat, satu demi satu mobil yang diparkir di halaman belakang Istana Negara Jakarta, mulai beranjak pergi. Matahari sudah menyemburat merah, bersiap masuk ke peraduan. Jam sudah menunjukkan pukul 17.25, tapi belum ada tanda-tanda kemuncul­an Dr. Andi Alfian Mallarangeng. Padahal, wawancara dengan femina sudah jauh-jauh hari dijadwalkan, yaitu pukul 14.30.

Ketika azan magrib usai berkumandang, barulah Andi Mallarangeng --biasa disapa Anto oleh teman-teman dekatnya-- kembali ke ruang kerjanya. Mengenakan setelan jas dan pantalon hitam, kemeja putih, dan dasi kuning, ia meminta maaf sambil menebar senyumnya yang khas. ”Maaf, sangat terlambat. Mendadak saya harus menemani Bapak Presiden menemui para pimpinan PWI,” kata alumnus Universitas Gajah Mada, itu dengan logat Bugis-nya yang kental.

Sebagai juru bicara (jubir) Presiden RI, Anto memang harus selalu siap kapan dan di mana pun dibutuhkan oleh Presiden. Juga harus rela mengorbankan akhir pekan dan hari-hari liburnya bersama keluarga. Sebagai contoh, esok paginya, ia harus menemani Presiden menghadiri berbagai acara di Yogya sampai hari Minggu. Kembali ke Jakarta, hari itu juga ia langsung terbang ke Bali.

”Tapi, mohon maaf kalau nanti wawancara kita terputus. Pukul 7 nanti saya harus menjenguk adik saya, Choel, di rumah sakit. Dia sakit jantung dan baru saja menjalani operasi,” tambah pria yang konon kumisnya digilai para pengagumnya yang wanita.

GENETIS POLITIK
Gara-gara penyakit jantung itu pula, Anto dan keempat adiknya harus menjadi anak yatim sejak masih anak-anak. Kepergian Andi Mallarangeng, ayahanda mereka, sungguh tidak terduga. Dari sinilah cerita duka bergulir. Anto baru duduk di kelas 4 SD ketika ayahnya wafat akibat sakit jantung. ”Ayah meninggal pada usia yang masih sangat muda dan di awal kariernya yang mulai bersinar,” kenang Anto. ”Secara genetis penyakit jantung ini menurun ke adik-adik saya, termasuk Rizal. Ia bahkan sudah menjalani operasi bypass. Alhamdulillah, hingga saat ini jantung saya sehat. Mungkin karena saya tidak merokok dan hobi olahraga, terutama tenis.”

Menjadi wali kota di usia 33 tahun (1969), ayah Anto adalah wali kota termuda di Indonesia saat itu. Keberhasilannya memajukan Kotamadya Pare-Pare, Sulawesi Selatan, sempat memunculkan rumor bahwa ia bakal diangkat menjadi gubernur.

”Bapak seorang pekerja keras dan selalu bekerja secara total,” kenang Andi Asni Patoppoi, ibunda Anto. ”Hampir setiap hari ia bekerja dari pagi hingga larut malam, lebih-lebih ketika ia merintis pembuatan jalan-jalan baru di Pare-Pare. Karena tidak ada biaya, Bapak mengajak masyarakat dan semua stafnya bergotong-royong memperbaiki dan membuat jalan baru itu. Agar tidak mengganggu tugas di kantor, pengerjaannya dilakukan pada malam hari.”

Maka, hampir setiap malam Andi terjun langsung memimpin pem­buatan jalan itu, sementara Asni dan para istri pejabat di kantor wali kota sibuk mempersiapkan makanan, kopi, dan teh. Asni sendiri tipe wanita yang tak kalah gesit. Selain hobi bermain tenis, ia juga mahir menyetir mobil –sesuatu yang belum jamak bagi wanita Bugis zaman itu. Asni biasa mengajak Anto atau Charlie –panggilan Rizal Mallarangeng-- ke lapangan, agar mereka bisa menyaksikan bagaimana ayah mereka bekerja bagi masyarakatnya.

Sayang, baru memasuki usia 36 (1972), Andi sudah dipanggil Tuhan. ”Saat itu saya benar-benar shock berat,” kenang Asni. ”Saya sangat tidak siap, sehingga pikiran saya kalut luar biasa. Bayangkan, anak sulung saya saja masih 8 tahun, padahal masih ada 4 adiknya.”

Hingga tiga bulan sesudahnya, Asni bagai orang linglung. Dalam kondisi gelap mata dan kalut luar biasa, suatu hari, di tengah malam, ia memutuskan pergi dari Pare-Pare dengan membawa kelima anaknya ke Makassar. ”Saya menyetir mobil seperti orang kesetanan, bagai tak sadarkan diri. Saya pikir, saya dan anak-anak bakal mati malam itu juga, soalnya jarak Pare-Pare-Makassar sekitar 150 km.” Masa kanak-kanak Anto dan adik-adiknya yang semula begitu indah, tiba-tiba bagai tercerabut paksa.

Masih terbayang jelas di benak Anto, setiap kali sang ayah bermain dengan anak-anaknya, ada saja acara yang dibuatnya untuk menghidupkan suasana. Kadang-kadang Anto maupun Charlie disuruh naik kursi dan bergantian berpidato di hadapannya. Bagi yang penampilannya dinilai lebih bagus, akan diberi hadiah dan tepukan meriah dari orang serumah.

Meski menjadi anak ’orang nomor satu’ di Kotamadya Pare-Pare, Andi membiarkan anak-anaknya bergaul dengan siapa saja, tanpa melihat latar belakang mereka. Setiap hari libur, Anto bersama teman-temannya pergi berenang ke laut, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumahnya. Pare-Pare memang dikenal sebagai kota pantai. ”Saat itu, di Pare-Pare belum ada kolam renang. Di laut itulah saya pertama kali belajar berenang,” kenang Anto. ”Belakangan Ayah baru membangun kolam renang Poliondro, yang kemudian sering dimanfaatkan untuk kejuaraan renang antardaerah.”

Anto belajar berenang secara otodidak. Awalnya, ia dan teman-teman hanya melipir di tepi pantai, dekat Pelabuhan Pare-Pare. Setelah mahir berenang, kenekatan mereka meningkat. Mereka mulai menyelam untuk berebut koin. Setiap ada kapal akan berangkat atau berlabuh, biasanya ada saja penumpang yang melempar uang logam ke laut. ”Merupakan kebanggaan kalau kami mampu merebut koin itu. Kami bisa jajan es lilin dari hasil keringat sendiri.”

Bersambung

Serial Terkait :

» Andi Mallarangeng,
penerus gen politik keluarga (Bagian 2)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 3)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 4)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 5)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 6)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 7)




Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :