Bookmark and Share


 
 

  Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 4)

 
 


MENOLAK JODOH PILIHAN IBU

Seperti umumnya bangsawan Bugis, calon istrinya sudah disiapkan oleh orang tua. Apa daya, hatinya malah kepincut gadis Yogya. Saat mengetahui, sang ibu pun pingsan.

AKTIVIS KAMPUS POPULER
Anto mulai kuliah di UGM tahun 1981, di Fakultas Sospol, Jurusan Sosiologi. Selain aktif di senat, ia juga aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), bahkan pernah terpilih sebagai Sekjen Senat Fakultas Sospol UGM dan Sekretaris Umum Komisariat HMI.

”Saya tertarik masuk HMI karena prestasi para aktivis HMI umumnya bagus,” Anto mengungkapkan. ”Anak HMI juga ba&nyak yang pintar. Di Sospol UGM, lulusan terbaiknya umumnya anak-anak HMI. Tapi, saya tak ingin aktivitas saya di HMI dan di senat mengganggu kuliah. Saya ingin mengubah mitos bahwa walaupun jadi aktivis, saya tak perlu menjadi mahasiswa abadi.”

Gatot Dewobroto, rekan Anto di Jurusan Hubungan Internasional UGM, terkesan pada Anto. Meski sangat pede, tongkrongan Anto sehari-hari sederhana. Karena itu, Gatot semula tak mengira bahwa Anto anak mantan pejabat tinggi dan dari keluarga berada. ”Saya baru tahu ketika dia menikah. Pestanya mewah sekali. Saya dengar, mereka mencarter pesawat untuk membawa keluarga dan peralatan pesta khas Bugis dari Makassar,” kata Gatot.

Meski dari angkatan yang lebih muda, Gatot mengenal Anto sejak ia masuk UGM. Selain aktif di senat dan HMI, Anto juga rajin mengikuti kuliah umum yang diikuti oleh semua mahasiswa sospol. Setiap kali dosen memberi kesempatan mahasiswa untuk bertanya, biasanya cuma Anto yang mengacungkan tangan.

Karena itu, Gatot tak kaget kalau Anto berhasil meraih gelar doktor dalam usia muda, bahkan menjadi jubir Presiden SBY. Gatot menambahkan, pilihan Anto untuk bersekolah di Yogya mungkin ikut memberi andil. ”Sebagai orang Bugis yang biasa blakblakan dan bersuara keras, ia banyak belajar tentang budaya Jawa, sehingga pembawaannya menjadi lebih sabar dan tenang,” lanjutnya.

Saat tahun kedua UGM, Anto dikabari oleh ibunya bahwa Charlie agak bermasalah. ”Kalau bisa, bawalah Charlie ke Yogya, sehingga bisa kau awasi,” demikian permintaan ibunya. Saat itu, Charlie sudah menyelesaikan sekolahnya di SMA Ragunan. Setamat SMP di Makassar, Charlie memilih ke Jakarta dan masuk ke sekolah khusus para atlet itu, dengan harapan bisa menjadi petenis nasional.

Berbeda dari Anto yang selalu kandas di babak penyisihan kejuaraan tenis nasional, Charlie jauh lebih berbakat. Setiap kali turnamen tenis kelompok umur, ia selalu sampai babak final, bahkan pernah menjadi juara kedua di Kejuaraan Pelajar Asean di Bangkok tahun 1982.

Tapi, setamat SMA, Charlie tiba-tiba merasakan kejenuhan dan ketidakpastian. Akibatnya, hidupnya terombang-ambing. Padahal, menurut Anto, sebagai pemain tenis yunior, waktu itu nama Charlie sudah cukup dikenal. ”Namanya sering masuk koran, uangnya banyak, pakaian dan sepatunya bagus-bagus,” kenang Anto.
Kepada Charlie, ia mengatakan bahwa stamina fisik paling banter hanya prima sampai 30 tahun, dan setelah itu kariernya sebagai petenis akan menurun atau selesai. “Sementara, kalau menekuni dunia akademis, pada usia 30, karier saya mungkin justru makin berkembang. Karena itu, lebih baik dia ikut saya ke Yogya dan melanjutkan kuliah,” kisah Anto. Untunglah, Charlie tak menolak.

Charlie mengakui, kakaknya banyak berjasa bagi pilihan hidupnya kelak. Tapi, jasa terbesar Anto terhadapnya adalah ketika sang abang ‘menyelamatkan’ dia di saat hidupnya tak jelas di Ragunan. Charlie merasa terketuk sekaligus tertantang, karena ternyata ia sudah tertinggal jauh dari kakaknya dalam soal pendidikan dan wawasan.

“Dulu, waktu kecil, bacaan kami selalu sama, misalnya buku-buku cerita silat Khoo Ping Hoo, Dr. Karl May, Tom Sawyer, dan sebagainya. Belakangan, setiap kali pulang liburan, bacaannya selalu yang baru-baru dan canggih-canggih, yang belum pernah saya baca. Dari situlah dia berhasil meyakinkan saya, dan akhirnya berhasil mengajak saya ke Yogya,” ujar Charlie.

Anto tak kalah bahagia ketika adiknya yang badung itu juga berhasil lolos tes masuk UGM, di fakultas yang sama dengannya. ”Bedanya, saya di jurusan sosiologi dan dia di komunikasi,” tambah Anto. Karena tak kalah cerdas, prestasi Charlie di UGM juga tak kalah cemerlang, sehingga ia berhasil menjadi lulusan terbaik, sama seperti Anto.

“Ketika saya menjadi dosen di Unhas, dia juga jadi dosen di UGM. Saya ke Amerika mengambil program doktor, dia juga ke Amerika dan pulang dengan gelar yang sama. Alhamdulillah, tugas saya sebagai kakak berhasil dengan baik, walaupun lumayan berat. Maklum, sampai jadi mahasiswa pun, dia masih hobi berantem. Sekarang, mungkin hanya Charlie satu-satunya alumni SMA Ragunan yang berhasil meraih gelar doktor,” ungkap Anto, terharu.

Saat kakak beradik itu masih sama-sama kuliah di UGM, keduanya juga dikenal sebagai jagoan tenis meja, baik di kampus maupun di lingkungan tempat kos mereka. ”Setiap tujuh belasan, saya selalu mendapat handuk baru,” kenang Anto, tertawa ”Saya selalu menjadi juara tenis meja antar-RT. Kalau di kampus, saya selalu menjadi juara ganda, berpasangan dengan Charlie.”


Bersambung

Serial Terkait :

» Andi Mallarangeng,
penerus gen politik keluarga (Bagian 1)


» Andi Mallarangeng,
penerus gen politik keluarga (Bagian 2)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 3)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 5)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 6)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 7)




Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :