
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|

| |
Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 5)

|
|
| |
NYARIS DITOLAK GADIS PUJAAN
Saat Anies mengungkapkan perasaannya, hati gadis itu berbunga-bunga. Tetapi, kenapa setelah itu si gadis justru sangsi dan khawatir?
Sibuk dan sibuk. Itulah kekhawatiran utama Fery Farhati Ganis S.Psi, M.Sc., yang saat itu masih menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada, saat ’dilamar’ oleh Anies di sebuah resto di Yogyakarta. Kekhawatiran Fery itu akhirnya menjadi realitas kehidupan Anies, yang kini telah menjadi suami dan memberinya empat anak, Mutiara Annisa (12), Mikail Azizi (9), Kaisar Hakam (4), Ismail Hakim (4 bln).
Saat femina datang pada hari Sabtu, hari pertama puasa, Anies tidak libur juga. Pagi-pagi ia sudah menerima PBS (Public Broadcasting Station). Stasiun televisi Amerika ini memiliki program 30 menit yang digemari masyarakat Amerika Serikat yang dibawakan oleh Jim Lehrer, moderator langganan acara Debat Calon Presiden Amerika. Anies diwawancara untuk topik tentang Indonesia, Islam, dan Demokrasi.
Di tengah wawancara yang ia sambi melayani putra-putrinya dan diramaikan kicau 10 burung di rumahnya di kawasan Lebak Bulus, ponselnya beberapa kali berdering. Anies seakan lupa, ia nyaris ditolak oleh wanita yang untuk pertama kali mengisi relung hatinya itu, karena kesibukan yang terus menderanya.
JATUH CINTA PADA SEPUPU
Kisah cinta antara Anies dan Fery agak unik. Dua sejoli ini sesungguhnya sudah saling mengenal sejak kecil, karena masih ada hubungan keluarga. Fery yang dilahirkan di Kuningan itu adalah keponakan Aliyah, ibunda Anies. Tahun 1989, ketika keduanya diterima sebagai mahasiswa UGM, keduanya sudah sering kali bertemu dan mengobrol. Tempat kos Fery pun berseberangan dengan rumah orang tua Anies. Tapi, entah kenapa, hati Anies belum juga terusik melihat kecantikan sepupunya itu. Mata Anies masih terus berusaha menelisik gadis-gadis yang berseliweran di sekitarnya.
Sebagai pemuda tampan, terkenal, dan pandai, sejak SMA Anies banyak digandrungi gadis-gadis. Entah sudah ada berapa surat cinta yang menyelinap di saku atau tas sekolahnya. Tetapi, semuanya dibiarkan lewat begitu saja. Anies bukan tidak ingin menikmati masa mudanya itu bersama gadis-gadis cantik di sekitarnya. Namun, ia selalu ingat pesan ayahnya, ”Jangan coba-coba memulai sesuatu, kalau kemudian hanya ingin mengakhiri!”
Pesan itu sepintas terasa sangat sederhana. Namun, kalau diresapi, maknanya begitu dalam. ”Saya juga ingin punya pacar. Tetapi, karena tidak ada keberanian untuk memulai dan main-main, maka saya memilih untuk tidak pacaran. Saya menyadari, Yogya itu kota kecil. Kalau saya sampai pacaran atau berbuat sesuatu yang agak miring, maka seluruh orang Yogya akan mengetahuinya,” katanya. Akhirnya Anies memutuskan untuk tidak berpikir tentang wanita sampai ia menyelesaikan kuliah di UGM.
Namun, bukan berarti Anies lalu mengenakan kacamata kuda. Ia terus mengamati gadis-gadis di sekelilingnya. Sebuah pengamatan panjang yang agak melelahkan, sekaligus mengasyikkan. ”Saya juga pernah naksir pada wanita, dan saya juga tahu ada pemandangan yang indah-indah, tetapi saya tidak pernah berani untuk melakukan action!” ujarnya, tertawa lepas.
Tanpa harus memacari mereka, usai merampungkan tugas KKN di kampusnya tahun 1994, Anies akhirnya menyadari siapa gadis terbaik untuknya. Suatu sore yang cerah, Anies memberanikan diri mengajak Fery pergi. Dengan mobil tua orang tuanya, Anies untuk pertama kalinya pergi berduaan dengan seorang gadis.
Malam demikian indah. Lampu yang redup, musik mengalun lembut, dan jamuan lezat, membuat suasana resto tempat pertemuan dua anak muda itu menjadi sangat romantis. Anies berusaha menata kata demi kata, agar bisa terurai dengan indah. Tetapi, ternyata tidak mudah. Meski sudah sangat terbiasa berpidato, tak urung satu dua butir keringat dingin Anies pun mengalir. ”Tidak ada sedikit pun keluar kata-kata cinta malam itu,” tutur Fery.
Anies memulai pembicaraan dengan mengeluarkan selembar kertas yang berisi rencana-rencana hidupnya. Antara lain, tahun sekian ia merampungkan kuliah, dan setelah itu dia akan menikah. Program selanjutnya, ia akan mencari beasiswa untuk meneruskan pendidikan S-2 dan S-3 ke Amerika. Tetapi, tiba-tiba Anies memandang Fery dengan tatapan mesra, sembari berucap lembut, ”Anies ini tertarik sama Fery. Anies ingin hidup bersama Fery.”
Fery diam. Meski sebelumnya sudah memperkirakan ada sesuatu yang ingin dibicarakan sepupunya itu, tak urung wajah Fery sedikit memerah malu. Hatinya berbunga-bunga, tapi Fery tidak mau lepas kendali. ”Gadis mana yang tidak tertarik pada Mas Anies saat itu? Orangnya cakep, terkenal, santun, dan smart. Di senat dia aktif, sering muncul di teve, dan menjadi pembicaraan di antara teman-teman perempuan. Tetapi, kenapa ia justru mendatangi saya?”
BUDAYA IBU
Ada banyak faktor kenapa Anies memilih berlabuh pada Fery. Sejak remaja ia acapkali berinteraksi dengan nenek dan ibunya, tentang peran ideal seorang istri dan bagaimana membangun rumah tangga yang baik. ”Saya berkesimpulan, warna, suasana, budaya, dan kebiasaan di rumah itu ditentukan oleh ibu. Ayah memang punya peran. Tetapi, nyatanya yang mewarnai anak adalah ibu!”
Fery yakin, sebelum berbicara, Anies tentu sudah berpikir lama. Dan, meski cinta telah menyelimuti hatinya, mendadak berbagai pertanyaan menyerang benaknya. ”Sanggupkah saya menemani Mas Anies yang sibuk? Apakah saya dan anak-anak akan mendapat waktu yang cukup? Apakah saya bisa diterima oleh kelompok orang-orang sibuk itu?”
Ibunyalah yang membesarkan hati Fery. ”Anies itu orang baik, pekerja keras, dan santun. Sekarang dia berniat baik. Allah tidak akan menjodohkan kamu, kalau dia memang bukan jodoh kamu. Semua terpulang kepada kamu!”
Kekhawatiran Fery akan dinomorduakan oleh kesibukan Anies, sedikit demi sedikit mulai surut ketika Anies memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Dia baru tahu bahwa Anies itu orangnya sangat sabar, telaten, penuh pengertian, dan romantis. ”You are a sweet girl!” seperti itulah cara Anies memuji Fery.
Anies merasa, perasaan cinta itu berbeda dengan nafsu atau sekadar suka. Eksistensi cinta terasa bila jauh menjadi rindu. Walau komitmen keduanya sudah makin bulat, mereka tetap menjaga untuk tidak selalu sering berduaan. Tepatnya, mereka jarang sekali berpacaran. Satu setengah tahun kemudian kedua orang tua Anies melamar Fery. Pada 11 Mei 1996, sejoli yang sama-sama baru pertama kali mengalami saling jatuh cinta ini pun menikah.
Lulus kuliah tahun 1995, Anies kemudian meneruskan pekerjaannya sebagai peneliti dan koordinator proyek di Pusat Antar-Universitas Studi Ekonomi UGM. Tahun 1996, Anies bersama istrinya berangkat ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan master di University of Maryland. Lulus sebagai master, ia mendapatkan beasiswa dari Northern Illinois University untuk program doktoral.
Bersambung
Serial Terkait :

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian I)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 2)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 3)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 4)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 6)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|